Apakah Sains Bisa Membuktikan Ketiadaan Tuhan?Ilustrasi (Foto: FB Vita Balqis)

HomeOpini

Apakah Sains Bisa Membuktikan Ketiadaan Tuhan?

Pengantar: Perdebatan tentang agama, filsafat, sains, saintisme dan kosmologi terus berlanjut dan memenuhi jagad sosial media. Ada banyak tulisan-tulisan bernas yang saling bersahutan, ditulis dalam ragam perspektif dan kaya rujukan. Teramat sayang jika dibiarkan berserak dan terlewat begitu saja. Untuk itu, dimulai dari tulisan Hasanudin Abdurakhman ini, Redaksi akan menayangkan secara berseri tulisan-tulisan tersebut dalam rangka menebarkan pengetahuan sehingga pembaca bisa mengambil manfaat. Salam Pencerahan.

Diogenes
Corona, Solidaritas dan Optimisme
Menanyakan Ketiadaan (Bagian Kedua)
2 min read

Tidak. Pemenang Hadiah Nobel Fisika Steven Weinberg saja mengakui bahwa sains tidak bisa membuktikan ketiadaan Tuhan. Sebabnya sederhana, karena Tuhan memang bukan urusan sains. Tidak ada agenda riset tentang cara mendeteksi Tuhan, atau formula matematis tentang Tuhan. Tidak ada pula pembahasan tentang seluk-beluk Tuhan dalam buku sains mana pun.

Lalu apa yang dilakukan sains? Sains hanya mengkaji berbagai gejala alam. Menariknya, banyak temuan-temuan sains yang mematahkan cerita-cerita kitab suci yang selama ini dianggap sebagai informasi yang bersumber dari Tuhan. Agama, misalnya, menceritakan soal bagaimana manusia diciptakan. Sains menggambarkannya dengan cara yang sama sekali berbeda. Akibatnya, timbul pertanyaan, benarkah isi kitab suci yang dianggap sebagai kata-kata yang bersumber dari Tuhan? Kalau berbeda dengan sains, sementara sains melakukan verifikasi, maka apakah narasi kitab suci masih bisa dianggap benar?

Permusuhan gereja terhadap sejumlah ilmuwan di abad pertengahan adalah bukti sejarah tentang konflik agama dan sains. Yang terjadi adalah temuan-temuan ilmuwan pada masa itu mengguncang narasi-narasi kitab suci. Mulai dari urusan bumi yang tak datar, bumi yang bukan pusat tata surya dan bukan pula pusat alam semesta, serta teori evolusi yang membantah narasi soal asal usul manusia menurut kitab suci.

Kita tidak bisa secara sederhana mengatakan bahwa kejadian itu semata ekspresi oknum tokoh agama saja. Soalnya tidak sesederhana itu. Faktanya narasi sains memang banyak yang bertentangan dengan narasi kitab suci. Pertanyaannya, kalau bertentangan, masihkah narasi kitab suci itu dapat diterima sebagai kebenaran?

Orang kemudian berdalih, bahwa kitab suci bukan kitab sains, sehingga tidak bisa diperlakukan sebagai kitab sains. Memang bukan. Sebenarnya tidak perlu ada istilah kitab sains. Kita hanya memperlakukannya sebagai sumber informasi, dan sains telah membuktikan bahwa informasinya keliru. Kalau suatu buku sudah terbukti memuat informasi keliru tentang sesuatu, masihkah ia layak dirujuk sebagai sumber kebenaran?

Banyak yang masih mencoba berkelit dengan mengatakan bahwa yang tertulis di sana bukanlah makna sebenarnya. Lalu dilakukanlah perubahan-perubahan tafsir yang membuat narasi-narasi kitab tadi tampak cocok atau mendekati gambaran sains. Secara tak sadar para pembuat tafsir ini sedang mengatakan bahwa informasi di kitab suci tak lagi bisa dibaca secara apa adanya. Yang tertulis bukanlah yang dimaksud. Maksudnya kini ditentukan oleh rujukan lain, yang bersumber dari akal manusia. Perhatikan hal penting ini. Makna sebuah narasi ditentukan oleh narasi lain.

Upaya berkelit itu dalam banyak kasus telah gagal menutupi pertentangan yang sebenarnya. Yang tersisa adalah polesan-polesan yang tak lagi mengikuti kaidah nalar.

Jadi, sains, dalam hal ini yang dimaksud adalah ilmu alam, memang tidak membuktikan ketiadaan Tuhan. Fakta-fakta sains hanya menyediakan alternatif narasi, membantah narasi-narasi yang sebelumnya dianggap bersumber dari Tuhan.

Lantas, apa yang bisa menjadi bukti ketiadaaan Tuhan? Lho, siapa bilang Tuhan itu tiada? Tuhan itu adalah sesuatu yang dipuja, dan dipertuhankan manusia, bukan? Kalau seseorang menganggap batu besar di sebuah gunung sebagai Tuhan, batu besar itu ada. Artinya, Tuhan itu ada.

Tuhan itu ada, dalam anggapan atau pikiran manusia. Satu-satunya cara untuk membuktikan keberadaan Tuhan adalah dengan pikiran manusia. Metode sains mustahil dipakai untuk membuktikan. Hanya dengan pikiran manusia Tuhan bisa dibuktikan ada.

Sains tidak bisa membantah kehendak manusia. Kalau ada orang menganggap sebuah batu besar di gunung adalah Tuhan, maka sains tidak bisa membantah anggapan itu. Sains tidak perlu repot-repot membantahnya. Tapi kalau batu besar itu dibutuhkan untuk membangun lab sains, kita bisa membelah dan menghancurkannya jadi serpihan kecil. (*)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0