Benarkah Tanpa Agama, Dunia Akan Damai?

HomeOpini

Benarkah Tanpa Agama, Dunia Akan Damai?

Tanpa agama, dunia ini akan tetap penuh konflik karena pada dasarnya semua orang memang berbeda, punya kepentingan berbeda, dan selalu ada orang yang ingin mendahulukan kepentingannya sendiri dengan menginjak kepentingan orang lain.

Titik Hening dan Kebahagiaan
Corona dan Idul Fitri Daring?
Corona: Senasib Sepenanggungan
2 min read

Ada cukup banyak orang bilang, kalau semua agama dihapuskan, dunia akan damai. Bahkan musisi top The Beatles, John Lennon, implisit juga bilang begitu dalam syair salah satu lagunya, “Imagine.” Komentar saya: Pernyataan itu menarik, enak dikutip, enak dijual sebagai tema seminar, sekaligus romantis. Tetapi sayang sekali, isi pernyataan tidak benar.

Tanpa agama, dunia ini akan tetap penuh konflik karena pada dasarnya semua orang memang berbeda, punya kepentingan berbeda, dan selalu ada orang yang ingin mendahulukan kepentingannya sendiri dengan menginjak kepentingan orang lain.

Benar, tanpa agama tidak ada lagi konflik antar agama atau antar-sekte atau aliran agama. Tetapi orang akan tetap berkonflik bahkan siap perang karena rebutan harta, rebutan tanah, rebutan uang, rebutan kekuasaan, rebutan perempuan, atau rebutan laki-laki (untuk yang perempuan atau yang homo), dan seterusnya. Jangankan orang lain, kakak-beradik yang satu keluarga, satu agama, satu etnis/ras yang sama, bisa bunuh-bunuhan karena rebutan harta warisan.

Makanya ada film dengan setting Perang Dunia II yang menggambarkan situasi prajurit Jerman dan prajurit Amerika. Ketika hari Natal, kedua pihak berhenti melakukan pertempuran untuk sementara karena sama-sama merayakan Natal. Selesai Hari Natal, perang berkecamuk lagi. Dalam film ini justru faktor agama yang membuat pertempuran berhenti, walau cuma sementara. Tetapi karena ada beda kepentingan yang dipaksakan oleh satu pihak terhadap yang lain, perang terus berlangsung sampai ada yang kalah.

Mungkin bagi yang mendukung “penghapusan agama” akan mengatakan: 1) bila tanpa agama minimal akan berkurang satu penyebab perang;

2) bila tanpa agama, uang untuk operasional / membangun gereja, masjid dsb bisa dialihkan untuk kemanusiaan, rumah sakit, pendidikan dsb.

Jawaban saya:

Agama pada dasarnya bukan sumber konflik, tetapi sumber kedamaian. Tetapi agama bisa dijadikan sumber konflik, itu tergantung manusianya. Sama seperti harta. Harta bisa jadi sumber konflik, tapi bisa menjadi sumber kebaikan, jika digunakan secara benar (persis menjawab sanggahan nomor 2).

Tidak logis, jika demi “perdamaian” maka agama harus dihapuskan dengan alasan agama adalah sumber konflik. Apakah kita juga harus menghapus harta benda karena harta adalah sumber konflik?

Agama malah menyuruh orang mengamalkan hartanya untuk kebaikan. Di Islam jelas ada kewajiban berzakat. Dalam konsep/tradisi/sejarah Islam, masjid bukan sekadar tempat ibadah tapi berbagai kegiatan kemasyarakatan yang besar maslahatnya.

Dengan menghapus agama, kita juga kehilangan manfaat agama yang menyuruh orang beramal dan berbuat kebajikan. Kerugian yang diderita akibat hilangnya agama bisa jadi jauh lebih besar daripada “keuntungan” yang diraih dari lenyapnya agama. Agama sebagai lembaga formal mungkin bisa hilang, tapi apakah manusia bisa hidup tanpa spiritualitas dan religiositas? (*)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0