Berbicara Tentang Tuhan

HomeBuku

Berbicara Tentang Tuhan

Judul: Talking about God, The Concept of Analogy and the Problem of Religious Language  | Penulis: Roger M. White | Tahun terbit: 2010

Trilogi Pembaruan: Haram atau Wajib?
Kembalinya Agama yang Membebaskan
Sesat Informasi
10 min read

Fakta bahwa orang memiliki pengalaman agama, memang menar¬ik dari sudut pandang psikologi. Tetapi, hal itu sama sekali tidak menunjukkan adanya pengetahuan agama. Seorang teis, misalnya mungkin percaya bahwa pengalamannya adalah pengalaman kognitif. Tetapi, meskipun ia dapat memformulasikan “pengetahuan”nya itu ke dalam proposisi proposisi yang dapat diverifikasi, kita boleh yakin bahwa ia sedang menipu dirinya sendiri. Hal itu bisa juga terjadi pada tulisan tulisan para filsuf yang menyatakan secara intuitif, “tahu” mengenai “kebenaran agama.” Dalam kenyataannya, ungkapan ungkapan itu hanyalah bermakna bagi para psi¬koanalis!”

Pernyataan “kejam” ini, berasal dari seorang filsuf Inggris, Alfred Julius Ayer, yang juga dikenal sebagai positivis dan sekaligus “musuh” para teolog, dalam bukunya yang sudah dianggap klasik, Language, Truth and Logic, (1946). Ia bahkan menganggap bahwa, seluruh isi kognitif (cognitive content) dari pengalaman agama akan dihapuskan oleh filsafat analitik dan empirisisme yang positivistik logis, sebagai altogether fallacious (kesalahan menyeluruh).

Walaupun pandangan pandangan Alfred J. Ayer ini sekarang tidak lagi populer di kalangan para filsuf agama, tetapi ia terus saja membayangi tulisan tulisan para agamawan, seperti kucing kesayangan kita di rumah, yang terus menerus ingin menempelkan bulunya ke kaki dan badan kita.

Tantangan bahwa bahasa dan pengalaman agama dapat dia¬nggap sebagai, istilah tadi, altogether fallacious atau kesalahan menyeluruh ini, membuat kita perlu mempunyai sebuah argumen yang bisa memberikan tempat yang layak secara filosofis atas pengala¬man dan bahasa agama, atau lebih tepat lagi pengalaman atau bahasa iman, supaya kita bisa menyangkal tuduhan tersebut. Penga¬laman iman perlu mendapatkan pengertian, atau istilah teknisnya, fides quarens intellec¬tum, “Iman berusaha untuk mengerti,” kata filsuf Anselmus. Inilah maksud dari buku Roger M. White, Talking about God The Concept of Analogy and the Problem of Religious Language.

Pengalaman Keagamaan

Menurut Roger M. White, pada dasarnya, setiap pengalaman, seperti juga pengalaman agama, adalah “pertemuan” yang bersifat “konatif,” yaitu pengalaman yang kita alami secara langsung dan murni. Dalam pengalaman “konatif” itu, kita mengalami pertemuan antara “aku” dengan “yang lain” (the other).

Dalam mengalami pengalaman ini, fenomenologi bahasa akan menyebutnya bersifat langsung, murni, dan terjadi pada taraf tidak sadar. Artinya, kita belum menyadari adanya, karena setiap pengalaman “konatif” berlangsung tanpa kata. Ketika kita mulai menyadari, dan mulai berbicara mengenai pengalaman tersebut, masuklah kita dari “aspek konatif” kepada “bahasa yang bersifat reflektif,” yaitu pengalaman yang sudah diabstraksikan ke dalam pola pola data inderawi (sense data). Setiap renungan tentang pengalaman agama, sebenarnya juga berlangsung dari pengalaman yang bersifat “konatif” ini. Artinya, pengalaman “konatif” diusahakan untuk dikenali secara intelektual dari suatu silent experience (“pengalaman diam”) kepada suatu spatio temporal pattern experience (“bentuk bentuk pengalaman yang bersifat ruang waktu”) yang bisa terjadi dalam berbagai macam konteks yang tidak terbatas. Refleksi yang dilakukan, karena itu bersifat indikatif, atau “menunjuk” ke arah tertentu. Fenomena dan problem inilah yang dewasa ini, akan digarap secara baik dalam fenomenologi agama maupun hermeunetika (“filsafat tafsir”).

Buku ini mengulas, bahwa kata “pengalaman” di sini tidak diartikan secara inderawi, seperti pengalaman empiris dalam sains. Sebab kata “penga¬laman” lebih mengacu kepada suatu pertemuan dan kegiatan antara subyek dan obyek: Suatu pengalaman yang nantinya akan membawa kita kepada kebersamaan. Dalam arti ini, pengalaman agama sebenarnya sebuah pengalaman yang tidak terungkapkan. Tetapi karena ada yang disebut “bahasa agama,” yaitu bahasa yang ada dalam Kitab Suci, dalam praktek praktek devosional (ibadah), dan ungkapan ungkapan yang muncul dalam proses internalisasi, obyektivasi dan sosialisasi kehidupan umat beragama, seperti ditulis Peter L. Berger, dalam bukunya, The Social Reality of Religion, maka pengalaman agama menjadi sesuatu yang bisa direnungkan.

Oleh karena itu, terdapat hubungan antara pengalaman agama dengan bahasa agama. Hubungan itu muncul melalui apa yang disebut sebagai “situasi keagamaan” (religious situation), yaitu kenyataan pengalaman, di mana realitas keagamaan itu terjadi.

Logika Bahasa Agama

Ludwig Wittgenstein, filsuf terkemuka pertengahan abad ini, dalam bukunya Philosophical Investigations mengatakan bahwa, kita perlu “membawa kembali kata kata dari permainan metafisik kepada permainan bahasa sehari hari.” Realitas metafisik memang bisa dihidupkan, tetapi selalu bersifat tentatif dan tidak tuntas untuk dimengerti, karena abstraknya itu. Menghidupkan kembali realitas metafisik tersebut bisa dilakukan melalui analisis bahasa, yang menjadi salah satu kecenderungan filsafat dewasa ini, termasuk dalam wacana bahasa agama.

Buku ini mengulas panjang lebar, melalui refleksi para filsuf dari Aristoteles, Immanuel Kant sampai pemikir kontemporer yang kalau kita ringkas kira-kira kesimpulannya, bahwa bahasa agama, sebenarnya mempunyai logika tersendiri. Bahasa agama merupakan cara berbicara orang beragama mengenai agamanya. Tetapi bagaimana orang beragama bisa berbicara tentang segala hal yang menyangkut agamanya, khususnya di sini, segala hal yang menyangkut pengalaman transendental? Disinilah lalu muncul problem, yang disebut problem keabsahan bahasa agama. Pertanyaan seperti, “Does Religous Claim Make Sense?” menggambarkan persoalan persoalan besar sekitar ini, yang coba diurai dalam buku ini..

Memasuki uraian tema tersebut, kita bisa melihat bagaimana pada masa skolastik (abad pertengahan Kristiani, juga Islam), orang berbicara tentang bahasa agama (tetapi di sini kita tidak memasuki aspek metafisik yang dihasilkan dari cara berfilsafat seperti ini, yaitu masalah analogia entis, analogi tentang “ada,” sebab soal itu cukup mempunyai problem serius dalam teknis filsafat, yang tidak perlu disinggung di sini. Kita hanya akan melihat sisi kategorisasi religius [agama] yang dipakainya).

Sejak alam pemikiran abad pertengahan dimulai, lazim dikenal bahwa jika kita akan berbicara tentang Tuhan (yang disebut “God-talk”), maka kita tidak mungkin akan memakai bahasa yang bersifat “univok” (univocal) maupun bahasa yang bersifat “ekuivok” (equivocal).

Maksud bahasa yang bersifat “univok” adalah bahasa yang memiliki arti yang sama apabila digunakan oleh dua orang atau lebih. Misalnya, bila seorang ahli fisika di suatu daerah berbicara tentang suatu grafitasi yang dirumuskan dengan persamaan F = m.a, maka ahli lain di tempat lain, yang berbicara tentang tema yang sama, meskipun di daerah yang berbeda, akan menggunakan dan menyepakati pengertian yang sama dari rumus grafitasi itu. Semua itu terjadi, karena adanya konsensus tentang teori grafitasi yang sudah lazim diterima sebagai salah satu “language games” dalam pemahaman mengenai teori fisika.

Sedangkan yang dimaksud dengan bahasa yang bersifat “ekuivok” adalah sebaliknya, yaitu dua kata yang dipakai sama, tetapi mempunyai arti yang berbeda. Jika kita berbicara panjang lebar tentang peranan “raja” dalam permainan catur, maka hal itu lain artinya bila kita berbicara tentang peranan “raja” dalam suatu negara konstitusional. Contoh lain adalah, jika manusia itu “kuasa”, maka Tuhan pun “kuasa.” Tetapi, “kuasa” Allah dan manusia jelas berbeda. Jadi, bahasa yang bersifat “ekuivok” adalah penggunaan bahasa kata yang sama, tetapi maknanya berbeda.

Tetapi, dalam konteks pengalaman keagamaan, maka di sini kita perlu mengemukakan perihal “pengalaman akan Tuhan” Jika seorang beriman berbicara mengenai Tuhan, sebenarnya dalam kesadaran orang beriman itu, ucapan mereka tentang Allah tidak bisa berlaku secara “univok” (“sama” sama sekali) maupun “ekuivok” (“berbeda” sama sekali).

Sudah menjadi postulat jika kita sebagai seorang beriman hendak berbicara mengenai Tuhan, maka kita tidak mau jatuh menyamakannya sama sekali (dalam teologi Islam ini pernah terjadi pada aliran “shifâtîyah”). Tetapi kita juga tidak mau membedakannya sama sekali (seperti yang muncul dalam teologi Mu`tazilah yang mendukung suatu paham allegoris mengenai sifat Tuhan). Sikap yang moderat yang sekarang lebih diterima adalah jalan tengah, yang dalam tradisi skolastik Islam maupun Kristen disebut sebagai jalan ketiga, yaitu “paham analogi” (qiyas). Hanya dengan “paham analogi ini,” kita bisa berbicara tentang Tuhan, yang sama, tetapi sekaligus berbeda dengan sifat-sifat manusia.

Buku ini menunjukkan, bahwa bahasa agama, memang bersifat analogi (qiyas). Artinya, bahasa agama itu sebagaian sama, tetapi sebagian lagi berbeda dengan bahasa dan situasi manusia. Di sini, kita berbicara mengenai bahasa analogi, maka “ada analogi yang berjalan ke bawah,” yaitu berbicara mengenai sesuatu dan menganalogkan dengan yang ada di bawah manusia, seperti binatang. Misalnya, dalam teori anjing Pavlov dibuktikan bahwa tingkah laku anjing distruktur dengan pola “ada-stimulus-maka-ada-respon.” Maka, begitu juga tingkat laku manusia (tetapi tetap dengan perhatian bahwa dalam diri manusia ada kompleksitas yang tidak bisa dibandingkan dengan teori anjing Pavlov).

Dalam konteks ini, jika kita berbicara tentang Tuhan, maka yang dimaksud di sini adalah “analogi yang berjalan ke atas,” yakni dari situasi manusia ke situasi Tuhan. Kita menyebut Socrates dengan sebutan manusia yang “bijaksana,” maka begitulah kira-kira dengan Tuhan. Jadi, Tuhan pun “bijaksana,” tetapi kebijaksanaan-Nya lain dengan kebijaksanaan Socrates, meskipun tetap ada persamaannya.

Sampai disini, jika kita berbicara misalnya, mengenai makna tentang 99 nama nama Tuhan (al asmâ’ al husna), mengambil contoh teologi Islam, Tuhan yang indah seperti “Dia yang Maha Pengasih” (al Rahman), “Maha Penyayang” (al Rahim), “Maha Raja” (al Malik), “Yang Maha Suci” (al Quds), “Yang Maha Damai” (al Salam), dan seterusnya, melalui paham “qiyas ke arah atas.” Kita pahami bahwa semua sifat tersebut pada dasarnya berbeda dengan sifat yang ada pada manusia (bahwa “Rahman” Tuhan berbeda dengan “rahman” manusia), tetapi toh tetap mempunyai persamaan secara relatif.

Jadi, untuk mendapatkan pengertian yang tepat, mengenai “paham analogi” (qiyas) ini, ada tiga jalan yang bisa dilakukan, yang biasa disebut dengan triplex via, yaitu:

Pertama, melalui “jalan positif” (via positiva). Maksudnya kita mengakui bahwa sifat sifat pengasih (rahman) yang ada pada manusia itu sebenarnya ada juga pada Tuhan, bahwa: “Allah itu pengasih” (rahman).

Kedua, melalui “jalan negatif” (via negativa), yaitu apa yang sudah kita “positifkan” itu, sekarang kita “negatifkan” secara terbalik, bahwa Tuhan itu tidak pengasih sesederhana pengasihnya manusia. Sehingga,

Ketiga, kita mendapatkan pemahaman analogis (qiyas) yang meru¬pakan kesatuan dari pemahaman paradoksal dua jalan dalam memahami pengertian bahasa keagamaan di atas.

Bahasa Agama Sebagai Sebuah Pengalaman “Disclosure”

Membicarakan pengalaman agama, dalam refleksi filsafat dewasa ini, sebenarnya kita dapat membuatkan kategori model mengenai suatu pengalaman agama. Misalnya, kita ingin berfilsafat mengenai penciptaan, maka “penciptaan” itu kita anggap sebagai model. Dalam strukturnya setiap model mengandung intrisik didalamnya suatu odd (“sesuatu yang memanggil, yang menarik narik, yang mengherankan,” oddness). Sehingga dengan kata “penciptaan” itu, kita merasa heran terhadap segala penciptaan yang ada.

Jika kita bisa mengalami rasa oddness ini, kita pun menyadari adanya suatu qualifier (yang akan menunjukkan ke arah mana kita harus melanjutkan model yang sudah kita bangun secara teoritis itu). Misalnya, kita mulai berefleksi mengapa ada penciptaan. Aku ada, aku dicip¬takan oleh siapa? Oleh orangtuaku. Orangtuaku diciptakan siapa? dan seterusnya. Di sini proses penciptaan mempunyai finalitas, yaitu tujuan awal dan akhir dari seluruh proses itu. Tidak ada suatu infinite regress atau asal keberadaan yang terus-menerus tak berhingga, tak habis-habisnya

Ada dua fungsi logis, kalau kita sudah menyadari adanya suatu qualifier, yang tadi kita sebut ke arah mana kita harus melanjutkan model yang sudah kita punyai itu. Pertama, kita diminta meneruskan model itu sampai batas tak terhingga. Kedua, jika kita sudah sampai pada batas akhir (misalnya manusia manusia yang ada ini diciptakan oleh siapa?), maka kita diminta agar mau committed untuk mengalami suatu pengalaman yang akan kita alami pada puncak pengalaman (to discern) sebagai sesuatu yang bersifat discernment, membawa kita untuk “melihat.” Proses inilah yang oleh filsuf Denmark, Soren Kierkegaard disebut sebagai “loncatan iman” (leap of faith). Sehingga muncul suatu pengalaman yang menghi¬langkan semua kategori kategori yang sudah kita buat: Suatu pengalaman baru, yang lain sama sekali. Pengalaman baru itu disebut disclosure (tersingkapnya sesuatu yang baru).

Dalam agama-agama, pengalaman disclosure ini diistilahkan dengan berbagai nama, apa itu enlighment, satori, moksha, nirvana, atau pengalaman ma`rifah dalam Islam.

Pengalaman agama seperti dikatakan Ian Thomas Ramsey (1915 1972), seorang filsuf Inggris, pada dasarnya adalah penga¬laman akan ketersingkapan (disclosure) itu, yang hanya akan terjadi jika kita menerima Nya dalam in a total commitment, artinya kalau kita sepenuhnya komitmen pada apa yang akan terjadi pada pengalaman kita yang baru itu. Komitmen total inilah yang mendasari iman. Sebenarnya komitmen agama (iman) ini merupakan respon terhadap sesuatu yang datang dari luar yaitu wahyu, yang datang dari “alam langit,”

Buku ini menguraikan, bahwa pengalaman tentang Tuhan merupakan suatu pengalaman akan “yang lain” dalam karakternya secara menyeluruh. Suatu pengalaman akan “yang kudus” yang bersifat transenden, tetapi sekaligus imanen. Dalam ungkapan lain, adanya suatu pengalaman akan misteri dalam iman yang tidak bisa dianalisis secara silogistik, tetapi hanya bisa ditunjuk sebagai “kenyataan mistik” yang tak terungkapkan dan samar, yang menjadi jelas dalam menerima seruan wahyu. Inilah suatu pengalaman keagamaan yang dinamakan dengan “kejelasan yang ajaib,” yang hanya dapat dialami oleh mereka yang ada dalam situasi disclosure.

Sehingga, kalau kita mau menganalisis pengalaman akan Tuhan ini, semuanya baru mendapatkan arti yang tepat dalam perspektif cara bahasa dari agama. “God is a key word presiding over the whole of language suited to a total committment“ (Tuhan adalah kata kunci yang mendahului seluruh bahasa yang hanya tepat dalam keyakinan menyeluruh [iman]), begitu kata an Thomas Ramsey, yang bisa menggambarkan usaha para filsuf klasik yang digambarkan buku ini dalam mengerti bahasa agama. (*)

 

Resensi ini ditulis dan diposting pertama kali oleh Budhy Munawar Rachman di Grup FB Esoterika – Forum Spritualitas

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0