Berfilsafat untuk Kebahagiaan

HomeBuku

Berfilsafat untuk Kebahagiaan

Judul: A Guide for the Perplexed | Pengarang: E.F. Schumacher | Penerbit: Abacus | Tebal: 172 Halaman | ISBN : 978-0349131306

Sisi Buruk Kebaikan
Jalan yang Jarang Dijalani
Gaya Hidup ‘Mindfulness’
5 min read

Dewasa ini, kehidupan kemanusiaan kita mengalami krisis yang luarbiasa. Salah satu pertanda krisis itu adalah semakin dangkalnya pengertian modern kita mengenai kehidupan manusia. Ini terutama terlihat dari pemahaman seratus tahun belakangan ini mengenai apa yang disebut sains, dan kaitannya dengan pengertian mengenai kemanusiaan. Krisis ini akhirnya, memudarkan kepercayaan pada percobaan modern untuk membahagiakan manusia. Dan semakin banyak pemikir-pemikir yang sering dianggap “aneh” yang menyarankan bahwa pemulihan harus datang “dari dalam diri manusia”, bukan hanya lewat pemecahan politis dan sistemik. Salah seorang pemikir yang dianggap aneh itu adalah E.F. Schumacher.

Buku A Guide for the Perplexed ini ditulis oleh ekonom-filsuf E.F. Schumacher, yang sebelumnya terkenal karena bukunya Small is Beatiful, yang telah menjadi semacam kitab suci para aktivis LSM pada era 1970-an dan 1980-an. Buku A Guide for the Perplexed ini adalah filsafat di balik buku Small is Beatiful yang mendunia, sebagai perlawanan atas gagasan bahwa besar (hal yang massif) itu efisien.

Ada beberapa istilah penting dalam buku Schumacher A Guide for the Perplexed yang perlu mendapat perhatian seperti: “pemulihan harus datang dari dalam,” mengenai “manusia dan tingkat-tingkatnya yang lebih tinggi,” mengenai masalah “konvergen” dan “divergen” dan beberapa istilah lain. Seyyed Hossein Nasr, menyebut “His posthumous work Guide for the Perplexed is one of the most easily approachable introductions to traditional doctrines available today.” Jadi buku E.F. Schumacher ini bisa disebut sebagai buku pengantar tentang filsafat perennial yang bagus.

Peta Filosofis

Menurut Schumacher, kita memerlukan sebuah peta filosofis, yang bisa menjelaskan kita berada di mana sekarang ini, sekaligus arah perjalanan hidup kita. Selama ini peta-peta yang disodorkan oleh saintisme, yaitu sebuah paham materialisme modern, telah membiarkan tidak terjawab banyak masalah-masalah penting dari hidup manusia. Bahkan menganggapnya sebagai “bukan masalah!”

Saintisme misalnya menganggap tidak bermakna pertanyaan-pertanyaan abadi filsafat dan agama, seperti: Mengapa kita ada di dunia ini. Kita berasal dari mana? Dan akan ke mana setelah kematian nanti? Apa arti dan tujuan hidup? Dan seterusnya, pertanyaan-pertanyaan perennial, yang “anehnya” oleh Schumacher ditekankan bahwa harusnya filsafat (modern) membawa manusia ke jalan itu. Tapi nyatanya semakin modern filsafat semakin jauh dari usaha menjawab pertanyaan tersebut

Oleh saintisme manusia dinilai hanyalah, tak lain dari, “suatu mekanisme biokimia pelik yang dimotori oleh suatu sistem pembakaran yang memberi tenaga kepada komputer-komputer dengan fasilitas-fasilitas penyimpanan yang luarbiasa guna memelihara informasi bersandi”. Juga sebuah pandangan reduksionistik yang misalnya lewat psikoanalisa Freud, akan menganggap perjuangan kepada nilai-nilai kemanusiaan tertinggi hanyalah, tak lain dari, “mekanisme-mekanisme pertahanan diri, dan bentukan-bentukan reaksi.”

PAGES

1 2 3

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 1