Cerita Relawan di Yogyakarta, Sebulan bersama Desinfektan

HomeBerita

Cerita Relawan di Yogyakarta, Sebulan bersama Desinfektan

Hingga Inisiasi Membangun Program Pangan Mandiri

Menurut Yogo, relawan kemanusiaan di Yogyakarta selain melakukan penyemprotan disinfektan yang hingga Rabu, (15/2020)  sudah 401 lokasi yang berhasil di semprot mulai dari tempat ibadah, sekolah, panti, kantor publik, kantor pemerintahan, pemukiman, kantor lembaga sosial, perusahaan, pasar dan Perguruan Tinggi.

WHO: Negara Harus Jamin Martabat dan Kesejahteraan Masyarakat
Buku ‘Jabung The Untold Stories’ Didiskusikan di Way Guruh Jabung
AJI Desak Kejaksaan Hentikan Penuntutan Diananta
2 min read

Yogyakarta, Falsafah.ID – Ada banyak cara yang terus diupayakan warga agar tetap bertahan hidup dalam situasi krisis di tengah pandemi Covid-19. Selain terus melakukan penyemprotan desinfektan dan sosialisasi kesehatan, warga juga berusaha menjalankan program membangun sistem ketahanan pangan secara mandiri tanpa campur tangan pemerintah.

Menurut Yogo, relawan kemanusiaan di Yogyakarta selain melakukan penyemprotan disinfektan yang hingga Rabu, (15/2020)  sudah 401 lokasi yang berhasil di semprot mulai dari tempat ibadah, sekolah, panti, kantor publik, kantor pemerintahan, pemukiman, kantor lembaga sosial, perusahaan, pasar dan Perguruan Tinggi.

“Tak terasa sudah 28 hari melakukan operasi kemanusiaan pencegahan penyebaran Covid-19 dengan disinfeksi, dan promosi kesehatan. Terdapat 458 RT yang menerima pembagian desinfektan dengan kurang lebih 22.900 KK penerima manfaat (91.606 jiwa). Kecil, tidak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang 270 juta jiwa,” tulis Yogo.

Yogo menambahkan bahwa program tersebut masih terus berlanjut, dan ada tambahan program salah satunya program mandiri pangan.

“Terima kasih atas dukungan para pihak, terima kasih untuk relawan tangguh yang masih terus terlibat dalam pelayanan kemanusiaan in,” tutup Yogo.

Berdasarkan penelusuran Falsafah.ID, program pangan mandiri yang diinisiasi warga Yogyakarta dilakukan dengan cara mengumpulkan pangan dan didistribusikan kepada yang paling berhak dan membutuhkan.

Di RW 09 Dusun Candi Karang, Sardonoharjo, Sleman, warga membeli bahan kebutuhan pokok seperti beras, mi instan, dan telur dari dana patungan. Bahan pokok tersebut lantas disumbangkan untuk warga yang kurang mampu, para pekerja yang dirumahkan, pedagang yang omzetnya turun drastis.

Di Kampung Nitikan, Umbulharjo, Yogyakarta, Lembaga Zakat, Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazizmu) bekerja sama dengan Pimpinan Ranting Muhammadiyah Nitikan dan pengurus kampung juga mendirikan Lumbung Pangan.

Ketua Lazizmu Hilman Latief sebagaimana dilansir Tirto.Id, Sabtu (11/4/2020) menjelaskan konsep lumbung itu ada beberapa jenis. Pertama ada lumbung yang identik dengan gudang penyimpanan pangan dan hanya dapat dimanfaatkan oleh satu komunitas dalam keadaan mendesak, misalnya paceklik. Kedua, lumbung dapat juga berbentuk kerja sama pengelolaan bahan pangan. Apa yang dilakukan Muhammadiyah dan Lazizmu adalah konsep yang terakhir yakni membangun kerja sama dengan para petani dan peternak.

Tak jauh berbeda, Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), organisasi yang terdiri dari serikat tani, masyarakat adat, juga nelayan dan kerap berkampanye soal ‘reforma agraria sejati’, pun mengaktifkan lumbung pangan yang mereka namakan ‘lumbung agraria’. Mereka mulai memobilisasi hasil panen para petani yang harga jualnya semakin turun karena terdampak Covid-19.

“Kami memberikan insentif di level petani agar harga tidak anjlok tapi kita menjualnya juga tidak terlalu mahal. Misalnya beras pandan wangi Rp14 ribu, kita jual hanya Rp9.500. Jadi benar-benar harganya normal,” kata Sekjen KPA, Dewi Kartika kepada reporter Tirto, Kamis (9/4/2020).

Pengumpulan distribusi hasil petani ini dilakukan dengan protokol yang ketat. Setiap rumah tangga petani atau komunitas petani diminta untuk mengamankan persediaan sendiri terlebih dahulu untuk enam bulan, baru kemudian sisanya dijual ke KPA dengan harga normal. (*)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0