Dosen Farmasi ITERA Latih Warga Manfaatkan Tanaman Obat

HomeBerita

Dosen Farmasi ITERA Latih Warga Manfaatkan Tanaman Obat

Tim dosen Program Studi Farmasi ITERA melakukan pengabdian masyarakat dengan mengadakan penyuluhan dan pelatihan pemanfaatan tanaman obat keluarga (Toga) untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh (imunitas)

Tim Itjen Kemdikbud Monitoring Program Kampus Merdeka di ITERA
Gubernur Lampung Serahkan Beasiswa Untuk 156 Mahasiswa ITERA
TIM KKN Itera Audiensi dengan Pemkab Lamsel Soal KKN Daring
1 min read

Jati Agung, Falsafah.ID – Tim dosen Program Studi Farmasi Institut Teknologi Sumatera (ITERA) Nur Adliani, S.Farm., M.Si., Apt. dan Dr. Syaikhul Aziz, S.Far., M.Si., Apt. melakukan pengabdian masyarakat dengan mengadakan penyuluhan dan pelatihan pemanfaatan tanaman obat keluarga (Toga) untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh (imunitas), di Desa Marga Agung, Jati Agung, Lampung Selatan, Minggu (9/8/2020).

Ketua tim Nur Adliani menyebut dalam masa pandemi Covid-19 saat ini banyak informasi simpang siur mengenai tanaman yang berkhasiat sebagai obat di tengah masyarakat. Selain itu, belum adanya vaksin atau obat untuk covid-19 membuat masyarakat beralih ke obat dari bahan alam atau obat herbal, hal ini menjadikan obat herbal naik daun kembali di tengah masyarakat.

“Banyak masyarakat yang mengira bahwa obat yang berasal dari bahan alam lebih aman jika dibanding dengan obat yang berasal dari bahan kimia, asumsi masyarakat ini tidak benar karena perlunya pembuktian dengan cara uji secara klinis dan uji keamanan,” jelas Nur.

Nur menyebut, tujuan kegiatan penyuluhan dan pelatihan tersebut adalah untuk menambah wawasan masyarakat tentang toga sehingga bisa mengolah toga menjadi minuman untuk meningkatkan kebugaran dan sistem kekebalan tubuh.

Adapun kegiatan yang dilakukan yaitu penyuluhan dan praktik. Dalam kegiatan tersebut tanaman obat yang digunakan diantaranya temulawak, kunyit, jahe, kencur, cengkeh, dan lainnya sebagai minuman yang dapat meningkatkan kebugaran dan kesehatan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, tim dosen Prodi Farmasi juga menyampaikan kepada masyarakat agar tidak mudah percaya dengan informasi mengenai obat herbal untuk covid-19 yang banyak simpang siur kebenarannya, serta selalu melakukan mawas diri dan pemeriksaan terhadap produk yang diperoleh dengan cara cek kemasan, label produk, Izin edar produk, dan kadaluarsa produk pada website cekbpom.go.id.

Nur menekankan, hingga saat ini belum ada obat kimia maupun obat herbal yang diakui dapat mengobati covid-19 karena masih dalam tahap pengujian di laboratorium dan rumah sakit. Untuk itu ia berharap agar masyarakat mencoba membuat sendiri dan dapat memanfaatkan tanaman obat tersebut untuk indikasi dan cara pemberian yang tepat.

“Semoga melalui penyuluhan dan praktik yang telah kami berikan ini peserta dapat mengetahui dan mulai menanam dan memanfaatkan Toga di lingkungannya, memahami khasiat, cara pengolahan, cara penggunaan dan takaran yang tepat untuk indikasi yang tepat juga,” pungkas Nur. (*/Rilis)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0