Filsafat sebagai Gaya Hidup

HomeOpini

Filsafat sebagai Gaya Hidup

“Hidup yang tidak diuji tidak layak untuk dijalani”.

Aku, Ayahku, dan Orang China
Virus Corona dan Kepanikan Massal
Inong dalam Hedonisme “Spiritual” Wanita Metropolis
4 min read

Mempelajari filsafat, bagi kebanyakan orang, adalah sesuatu hal yang paling sulit sekaligus menyenangkan. Bagian menyenangkannya adalah ketika kita mulai berani menjelajahi konsep pemikiran para filsuf dari Yunani klasik hingga kontemporer. Di sisi yang sama, justru hal itulah yang menjadi kesulitan bagi seorang aktivis filsafat —sebutan bagi pelajar filsafat.

Kesulitan itu diperhadapkan ketika kita mulai memasuki model konsep berpikir metafisika. Itu adalah pembahasan utama dalam filsafat, yaitu pencarian akan hakikat realitas atau pengajuan pertanyaan mengenai Ada.

Pertanyaan mengenai hakikat realitas dimulai sejak Thales.Namun boleh dikatakan Parmenides-lah filsuf pertama yang mempraktikkan cabang filsafat metafisika pada awal abad 5 SM. Gagasan Parmenides mengenai Ada ialah “yang ada dan yang tidak ada tidak ada”.

Sampai di sini, mungkin bagi seorang pemula,mempelajari filsafat akan mulai menutup bukunya dan beralih ke buku lain yang lebih mudah untuk dipelajari. Sebab, menurutnya, itu mendapatkan nilai manfaatnya secara langsung.

Bagaimana mungkin suatu ilmu mempelajari tentang Ada sementara Ada itu sendiri sudah menjadi hal yang lazim bagi kebanyakan orang, dan mungkin tidak akan mendapatkan nilai manfaatnya ketika mempelajarinya?

Jika kita mulai berangkat dengan pertanyaan tersebut untuk mempelajari filsafat, maka dapat dipastikan kita tidak akan mungkin kembali bertemu dengan konsep pemikiran filosofis.

Dalam kasus lain pun, sering dijumpai orang yang serius mempelajari filsafat namun tidak mampu memberikan dampak bagi kehidupannya. Dalam kasus ini, filsafat hanya sekadar wacana yang terus-menerus disimpan dalam kepala.

Pada kedua kasus tersebut, kita melihat bagaimana filsafat mulai ditinggalkan oleh kalangan intelektual. Filsafat hanya menjadi wacana tanpa memberikan dampak pada kehidupan individual serta sosial.

Berpikir Kritis

Pemikiran filsafat mulai berkembang sekitar awal abad 6 SM. Ketika itu, filsuf Ionia (pra-Socrates) seperti Thales, Anaximenes, Heracleitos, dan yang lainnya mulai mempertanyakan asal mula atau hakikat alam dan manusia.

Penjelasan mengenai alam dan manusia awalnya dijawab oleh argumentasi mitos (pra-filosofis). Ia tidak didasarkan pada rasio atau kemampuan berpikir manusia. Pada saat itu pun, ada ketidakpuasan atas jawaban tersebut. Sehingga filsafat hadir untuk menggantikan argumentasi mitos yang tidak dapat dijustifikasi, baik oleh rasio maupun pengalaman.

Perpindahan gaya berpikir tersebut sebagai awal lahirnya filsafat ditandai ketika logos mulai menyingkirkan gaya berpikir mitos yang berkembang saat itu. Dimulainya filsafat menggantikan mitos sebagai awal gaya hidup manusia yang mulai percaya diri akan kemampuannya menggunakan potensi rasio yang dimilikinya.

Secara filosofis, untuk apa kita mempertanyakan segala sesuatu yang sudah ada jawabannya, umum, dan fundamental? Filsafat hadir untuk menguji hidup dan dunia secara rigorus (ketat) dan kritis mencakup totalitasnya. Seperti diktum terkenal dari Socrates, “Hidup yang tidak diuji tidak layak untuk dijalani”.

Yang dimaksud kritis di sini bukanlah negativitas atau penolakkan secara total. Namun kritis ialah suatu upaya melakukan penyelidikan filosofis dengan menggunakan perangkat rasio yang akan melahirkan pertanyaan.

Dengan model semacam itu, kritis dapat dipahami sebagai: pertama, menemukan kesalahan; kedua, menilai kebenaran; dan ketiga, mencari hal yang menarik dalam suatu argumentasi.

Namun yang harus diingat bahwa konsep mengenai kritis begitu banyak dalam dunia berpikir filsafat. Para filsuf sebelum Immanuel Kant, salah satu filsuf dengan konsep kritisisme, menyibukkan diri pada masalah seputar isi pengetahuan, apa itu kebebasan, manusia, Tuhan, dan merumuskannya secara ontologis.

Immanuel Kant justru tidak terlalu mempersoalkan hal tersebut, namun pada bagaimana syarat mungkin pengetahuan. Kant menyelidiki kemampuan dan batas rasio untuk membuktikan sampai di mana justifikasi rasio dianggap benar.

Dengan begitu, kritisisme Kant adalah suatu bentuk pengadilan tinggi rasio bagi dirinya sendiri. Atau, sebagai pengujian bagi klaim pengetahuan akan dirinya sendiri dengan dan tanpa prasangka serta dilakukan oleh rasio belaka.

Dengan model kritis, apa un yang kita gunakan bukanlah hal yang dipermasalahkan. Dengan memulai dari titik berangkat model kritis sebagai upaya penyelidkan filosofis rasio —negativitas, positivitas, dan rasionalitas, maka kita sudah mulai mempraktikan filsafat sebagai lifestyle.

Lompatan Hidup

Pada dasarnya, manusia itu terlempar dalam dunia temporal dan fenomen—berubah secara terus-menerus. Kita tidak bisa memilih akan terlahir di negara mana, bangsa mana, suku mana, kulit berwarna apa.

Hal tersebut semacam faktisitas yang tidak bisa kita tolak. Jika kita menolak faktisitas tersebut, maka secara otomatis kita menolak akan keberadaan.

Terkadang kita juga larut dalam keseharian dan rutinitas yang terus-menerus kita jalani. Seperti, pergi bekerja, menyelesaikan tugas kuliah, melakukan pekerjaan rumah tangga, dan yang lainnya.

Memang benar, tidak jadi masalah jika kita menjalani hidup seperti pada umumnya. Tidak masalah juga jika kita hanya sekadar to be survive dalam menjalani hidup. Namun problemnya, kita tidak akan pernah menulis sebuah biografi hidup dalam pemaknaan akan eksistensi dan keberadaan kita di dunia.

Manusia secara terus-menerus diperhadapkan pada pilihan-pilihan hidup yang sering menyulitkan, seperti hidup hanya sekadar to be survive atau hidup dengan pencarian akan otentisitas diri. Apa pun pilihan yang kita pilih, keduanya benar. Yang menjadi penting di sini ialah apakah kita memilih dengan bebas.

Tingkat berpikir paling tinggi pada manusia atau menurut Heidegger sebagai kesalehan adalah bertanya. Bertanya yang dimaksud di sini adalah bertanya akan makna Ada sebagai jalan menuju otentisitas diri.

Filsafat membawa kita dalam kedalaman berpikir yang dimulai dengan pertanyaan. Barangsiapa yang mencari kedalaman berpikir, maka mulailah dengan yang paling sederhana,yaitu dalam keseharian dan rutinitas.

Justru kita tidak harus tenggelam dalam keseharian dan rutinitas tersebut. Dengan begitu, akan muncul suatu kecemasan akan pertanyaan mengenai keberadaan kita, eksistensial, di dunia. Saat berhadapan pada situasi kecemasan, maka kita akan sadar terhadap batas waktu, yaitu mortalitas atau kematian.

Dengan memulai hidup dengan cara seperti itu, kita akan melakukan interruption atau lompatan hidup yang layak dengan menggunakan 4 perangkat berpikir dalam filsafat, yaitu imajinasi, intuisi, rasio atau logika, dan persepsi.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0