Indonesia Dinilai Belum Siap New Normal

HomeBerita

Indonesia Dinilai Belum Siap New Normal

Peneliti Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Pradiptajati Kusuma menilai Indonesia belum siap untuk menerapkan new normal

PDIP Dukung Calon Pilkada Harus Tes Swab
Trump Kembali Tuding Tiongkok Sebagai Pembunuh Massal
Cegah Covid-19 Meluas, Pemerintah Aceh Berlakukan Jam Malam
1 min read

Jakarta, Falsafah.ID – Peneliti Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Pradiptajati Kusuma membuka suara perihal rencana pemerintah yang akan menerapkan kehidupan normal baru atau new normal di tengah pandemi covid-19 saat ini.

Menurutnya, di beberapa negara pelonggaran pembatasan sosial diberlakukan karena jumlah kasus di negara mereka sudah berada di single digit setiap harinya sebelum new normal dijalankan.

Seperti diketahui, beberapa negara seperti Korea Selatan, Jerman, dan Singapura akan menerapkan new normal pada 1 Juni 2020 mendatang.

“Singapura saat ini kasus komunitas sudah di bawah 10 atau maksimal belasan per harinya. Ini mungkin karena sangat dibantu dengan kedisiplinan masyarakatnya dan ketegasan sanksi dari pemerintahnya,” kata Pradiptajati, Rabu (27/5/2020).

Sementara di Indonesia, menurut Pradiptajati penularan pasien kasus positif Covid-19 di Indonesia masih terbilang cukup tinggi. Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mencatat hingga Rabu (27/5/2020), jumlah kasus konfirmasi positif Covid-19 mencapai 23.851 orang. Jumlah tersebut bertambah 686 orang dibandingkan dengan sehari sebelumnya.

Indonesia menurut Pradiptajati bisa meniru Jerman yang melakukan secara bertahap pelonggaran lockdown. Jerman mulai melakukan pelonggaran lockdown saat jumlah kasus positif di negaranya mencapai 400 orang per hari. Setelah melewati peak yang mencapai 6.000 kasus per harinya.

“Jadi mereka melonggarkan restriksi sosial, setelah angka kasus jauh di bawah. Apakah Indonesia sudah siap untuk melonggarkan restriksi sosial? Kalau dibandingkan dengan standar dari negara lain sih, belum ya. Tapi juga restriksi sosial di Indonesia juga tidak seketat negara lain,” kata Prapditajati melanjutkan.

Dengan demikian, menurut Pradiptajati apabila ada masyarakat yang ingin melakukan suatu hal yang mendesak di luar rumah, memang harus dilakukan phsycial dan social distancing, juga hygiene yang baik seperti menggunakan masker dan sering cuci tangan.

Pun apabila ingin berdamai dengan virus corona, menurut Pradiptajati butuh skenario mitigasi untuk kemungkinan terburuk.

“Misal, skenario containment jika ada penyebaran masif lokal, ketersediaan fasilitas rumah sakit kesehatan, sarana pengobatan yang baik, dan seterusnya. Jadi tetap butuh data dan pemantauan. Gak bisa berdamai gitu aja. Apalagi untuk citizen dengan risk factor yang tinggi,” ucapnya. (*)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0