Jeda dan Sunyi

HomeOpini

Jeda dan Sunyi

Saat para ahli ibadah, da’i dan pastor bercucuran air mata sembari berdoa pada pemilik alam agar kita dijauhkan dari segala wabah. Di saat itu pula kita tak luput dari adu kritik, saling menyalahkan, mempertontonkan ke-ego-an, sebagian dari kita tetap membangkang, menunjukkan keangkuhan pada instruksi negara dan fatwa para ulama.

Cinta Diri dan Cinta Sesama
Corona: Senasib Sepenanggungan
Kekuasaan dan Kentut
3 min read

Detik ini, video dan gambar kesunyian kota-kota besar di berbagai balahan dunia masih saja tampil di layar smartphone kita, dunia dalam jeda dan sunyi. Ya, manusia bertuhan perlu waktu jeda dalam pertarungan menyusuri altar hidup. Dalam agama, kita sebenarnya sudah diajari ikhwal muhasabah diri. Di titik itu, kita dipaksa meleburkan sekaligus membekukan berjubelnya sifat keangkuhan, kedurjanaan dan keangkara-murkaan dalam diri.

Kita wajib mafhum, bahwa Tuhan (Al-Haq) tidak pernah tidur. Dia terus memantau seluruh skenario pergerakan alam-Nya. Sementara manusia utusan Tuhan–khalifah–bergentayangan mengisi ruang dunia seraya menggugat kedigdayaan Tuhan dengan dalil science tanpa ada jeda dan abai terhadap waktu yang “sunyi”.

Kini dunia jeda dalam sunyi. Media memberitakan kerajaan Arab menangguhkan sementara ibadah umrah, Mekkah dan Ka’bah dalam kesunyian. Vatikan memerintahkan gereja-gereja Roma ditutup, Italia dan kota-kotanya mendadak mati. Di Wuhan, meskipun kini telah merayakan kemerdekaan melawan Covid 19, kota episentrum Covid 19 ini pernah menjadi kota mati akibat lockdown. Ekonomi di beberapa kota metropolitan dunia lumpuh. Orang-orang mengurung diri, pekerjaan via online.

Kita sunyi dalam nyata tapi kita ramai di dinding maya. Helai kertas berisi instruksi dan imbauan struktural negara dan agama berseliweran menyapa kita dalam sunyi. Laptop, smartphone dan televisi seketika menjadi sahabat sejati. Kalimat “Stay at home” menggaung di seantero jagad maya. Apakah kita benar-benar sunyi? Ataukah kita hanya dalam kepura-puraan?. Sebab sebagian di antara kita membangkan dan abai. Saat ini, mengalienasikan diri ke hutan dan berkebun mungkin baik, tetapi berkerumun di pelataran kota, bercengkerama, berjabat dan berpelukan adalah kealpaan.

Tuhan Maha Tahu, manusia perlu diberitahu. Bahwa wabah penyakit bukan hanya hari ini, dari zaman ke zaman selalu ada wabah. Saat wabah itu tiba, seluruh manusia mengurung diri. Ada cerita para tetua kita terdahulu saat tidak mampu menghadapi wabah, mereka mengibarkan bendera putih sebagai simbol kekalahan melawan wabah. Deretan wabah mematikan yang pernah menyayat wajah dunia dari zaman ke zaman dapat diungkap.

Di zaman kenabian Muhammad SAW, kusta (leprosery) pernah mewabah dan sangat mematikan. Nabi memberi perintah untuk tidak mendekati penderita Kusta, Nabi bahkan bersabda “Jika kamu mendengar wabah di satu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangat tinggalkan tempat itu”.

Pandemi juga hadir dalam sejarah kejayaan kekaisaran Bizantium dengan pusat di Konstantinopel dan di sekitar laut Mediterania, pernah menghadapi wabah Justinian. Oleh para pakar, wabah ini dianggap wabah yang paling mematikan, Justinian mewabah pada masa 541-542 M. Di masa 1347-1351, dunia dilanda  Kematian Hitam (Black Death). Ini adalah salah satu dari deretan pandemi yang dianggap paling bepengaruh dan menghancurkan dalam sejarah dunia.

Pada Abad ke 15-17 M, munculnya Cacar yang menewaskan sekitar 20 juta umat manusia. Pandemi Kolera muncul pada era 1817-1823, diperkirakan menewaskan 143 ribu orang per tahunnya. Di Abad 20 hingga 21 ini, dunia mencatat adanya Flu Spanyol H1NI (1918-1919), Flu Hongkong H3N2 (1968-1970), HIV/AIDS (1981), SARS, Flu Babi, Ebola hingga yang terkini adalah Covid 19.

Sederet pandemi dunia itu, termasuk Covid-19 mampu membuat dunia jeda dan sunyi. Betapa tidak, orang dipaksa mengurung diri yang berdampak pada lunglainya ekonomi. Para imam masjid diinstruksikan merenggangkan shaf shalat yang sejatinya harus rapat, bahkan Jumat yang sakral terpaksa ditunda. Begitu pula para pastor dan pendeta yang tak pernah alpa mengatur jemaatnya untuk tidak bersentuhan, pihak kepolisian rutin berpatroli membubarkan kerumunan. Bingkai dunia seakan berubah: dari yang erat menjadi renggang, yang ramai menjadi sunyi, yang berlanjut menjadi jeda.

Kita jeda dalam ekonomi, jeda dalam ibadah, jeda dalam politik bahkan terpuruk. Dari semua itu, kita tak mungkin menyiapkan  kain putih untuk dikibarkan layaknya para terdahulu kita yang awam tentang wabah. Tetapi kita wajib menang. Kemenangan kota Wuhan wajib menjadi motivasi maha tinggi.

Di titik krusial ini, saat terkaparnya ratusan jiwa, terkubur tak beraturan. Saat sebagian para pahlawan di garis depan (dokter) menghembuskan nafas, saat para pengais rezeki di jalanan (pedagang kaki lima dan sopir) menjerit pendapatan yang menurun, ada jeritan di lorong-lorong kemiskinan. Ada anak sekolahan dan mahasiswa mengeluhkan ketidakcukupan fasilitas karena dipaksa belajar daring.

Saat para ahli ibadah, da’i dan pastor bercucuran air mata sembari berdoa pada pemilik alam agar kita dijauhkan dari segala wabah. Di saat itu pula kita tak luput dari adu kritik, saling menyalahkan, mempertontonkan ke-ego-an, sebagian dari kita tetap membangkang, menunjukkan keangkuhan pada instruksi negara dan fatwa para ulama. Adalah sebuah kefatalan. Jika ini terus berlanjut, kekalahan akan menghampiri. Kita seakan lupa keadaban kita sebagai bangsa yang kuat, siap menang dan merdeka jika bersatu, sebab perang ini bukan bambu runcing versus pudar senjata, melainkan hanya bersatu dalam “Diam”. Sekali lagi, kita dituntut jeda dan sunyi.

Dalam jeda dan kesunyian itu, sejatinya kita dituntun memanfaatkan ini sebagai muhasabah diri; membakar segala keangkuhan, menguatkan ibadah, begumam dengan Tuhan dalam doa di waktu mustazab, sembari menebarkan kebajikan. Lagi-lagi Tuhan tidak tidur. “Tidakkah yang paling berat itu adalah merendahkan diri untuk membunuh keangkuhan?

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0