Komunitas Bring Your Tumbler, Upaya Selamatkan Bumi

HomeBerita

Komunitas Bring Your Tumbler, Upaya Selamatkan Bumi

Komunitas Bring Your Tumbler lahir dari sebuah proyek kompetisi pendanaan di 2015, bertujuan menyelamatkan bumi dari dampak pemanasan global.

Saat #WorkFromHome Orang Tua Harus Bisa Jadi ‘Guru’ Pengganti
Mahasiswa Biologi UPGRIS Ciptakan Sabun Antiseptik Dari Kulit Kacang Tanah
Joe Biden Sindir Trump Bersikap Lunak Pada Putin
1 min read

Bali, Falsafah.ID – Masyarakat Indonesia masih terus bergantung kepada plastik karena dianggap praktis dan mudah didapatkan. Meskipun begitu, para aktivis lingkungan menilai sampah plastik khususnya botol menjadi salah satu faktor penyebab pencemaran di lingkungan. Hal ini dibuktikan dengan lamanya proses penguraian plastik yang membutuhkan waktu hingga 450 tahun.

Berbagai gerakan lingkungan mulai mencari solusi alternatif untuk menggantikan botol plastik yang banyak beredar di pasaran. Salah satu komunitas yang terus berkontribusi untuk memberikan edukasi kepada masyarakat ialah Bring Your Tumbler.

Tirtha Kusuma Wardhani selaku Project Leader Bring Your Tumbler, mengatakan bahwa komunitas ini lahir dari sebuah proyek kompetisi pendanaan di 2015. Rencana tersebut berupaya menyelamatkan bumi dari dampak pemanasan global.

Ia menambahkan, tujuan dari BYT ialah untuk mengaktualisasikan penggunaan tumbler dalam kehidupan sehingga menjadi tren di kalangan anak muda. Salah satu cara yang efektif untuk mencapai hal tersebut adalah dengan menyebarkan ‘virus tumbler’ pada anak muda di Bali khususnya.

Selain Bring Your Tumbler Goes to School, program rutin yang dilaksanakan BYT, yaitu Environment Talkshow, Kampanye Gerakan Indonesia Membawa Tumbler, dan One Day Eco Camp. “Awalnya kami turun ke sekolah dasar,” ucapnya sebagaimana dilansir Greeners, Kamis, (25/6/2020) lalu.

Membawa tumbler dinilai menjadi salah satu solusi untuk mengurangi timbulan sampah botol plastik sekali pakai. Namun, di lain sisi keberadaan tumbler juga menuai pro dan kontra di masyarakat. Dalam pembuatannya, tumbler membutuhkan energi yang lebih besar daripada plastik.

Tirtha membenarkan bahwa penggunaan barang-barang alternatif juga akan berdampak negatif terutama karena industri kerap melalui proses yang tidak ramah lingkungan. Menurutnya, setiap produk buatan pasti meninggalkan jejak karbon bagi ekosistem.

“Yang terpenting itu bagaimana cara mengurangi sikap konsumtif. Jangan beli barang apa pun hanya sekadar untuk koleksi, sesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Belanja dengan bijak dan gunakan dengan bijak,” ujarnya.

Ia juga mengedukasi masyarakat bahwa tiap individu bertanggung jawab akan setiap sampah yang dihasilkan. “Dengan begitu masyarakat akan semakin bijak dalam menentukan  pilihan.”

Hingga saat ini, komunitas Bring Your Tumbler memiliki kurang lebih 30 relawan dan lebih dari 500 Eco Warrior di seluruh Indonesia. Mereka sudah diberikan sosialisasi untuk membantu kampanye.

Ia berharap agar masyarakat lebih peduli lagi dengan lingkungan karena perubahan apa pun mencerminkan individu-individu yang menghuninya. Kepada generasi penerus, ia berpesan untuk menggunakan tumbler. Meski sederhana, tetapi hal tersebut dapat membawa dampak yang luar biasa untuk Bumi. “Sehingga dapat mewariskan lingkungan lestari ini kepada anak cucu kita nantinya. Dimulai dari sayangi Bumi dan dimulai dari kita,” ucapnya. (*/Ridho/Greeners)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0