Komunitas EwasteRJ: Biasakan Memilah Sampah Elektronik

HomeKomunitas

Komunitas EwasteRJ: Biasakan Memilah Sampah Elektronik

Masyarakat tidak bisa menolak pertumbuhan teknologi yang semakin canggih. Namun, sebagai konsumen, setiap individu bertanggung jawab atas sampah elektronik miliknya.

Buku ‘Jabung The Untold Stories’ Didiskusikan di Way Guruh Jabung
Para Hakim, Yuk Ikuti Lomba Vlog IKAHI
Dukung Pengembangan Literasi di Way Guruh, Aura Publishing Sumbang Buku
2 min read

Jakarta, Falsafah.ID – EwasteRJ merupakan komunitas yang diinisiasi oleh para remaja dengan fokus kepedulian terhadap limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3) khususnya elektronik. Ide ini pertama kali muncul atas inisiatif Rafa Jafar untuk mengatasi tumpukan barang elektronik bekas di rumahnya.

Pada 2014, ia mulai melakukan riset mengenai sampah elektronik dan meluncurkan buku E-waste setahun berikutnya. Rafa menceritakan ia bersama ibunya ingin menjalankan sebuah gerakan untuk mengatasi sampah elektronik di masyarakat.

“Tanpa kita sadari kalau sampah elektronik didiamkan saja, maka kandungannya akan berbahaya. Cairannya bisa bocor karena cuaca panas atau tergores. Itu berbahaya. Terkadang masyarakat tidak sadar di dalam sampah elektronik ada B3,” ucap Rafa melalui konferensi video, Selasa, (14/4/2020).

Ia mengatakan Komunitas Ewaste-RJ terbentuk pada 2017 sebagai upaya mengatasi masalah sampah elektronik, memfasilitasi, dan mensosialisasikan limbah B3 khususnya elektronik kepada masyarakat. Komunitas Ewaste-RJ membuat sebuah program midpoint e-waste dengan fasilitas drop box di beberapa titik di ruang publik. Setelah sampah terkumpul di mitra, drop box akan dikirim ke Sekretariat EwasteRJ untuk dipilah berdasarkan kategori. Setelah selesai, perusahan pengolah yang menjadi rekan EwasteRJ akan mengangkutnya.

Lokasi pengumpulan (drop zone) saat in sudah ada di 11 kota dengan jumlah 18 titik di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Mayoritas titik berada di Jakarta, sebab, Ewaste-RJ bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta. Masing-masing titik terdiri dari 10 titik di Jakarta, 3 titik di Bekasi, dann 3 titik di Depok, dan 3 titik di Bogor.

Selain kegiatan mengurus sampah elektronik, komunitas ini juga kerap mengisi acara atau berpartisipasi dalam acara pemerintah, sekolah, perusahaan, maupun komunitas lain. Tujuannya adalah untuk membangun kesadaran masyarakat tentang bahaya sampah plastik.

Pranandya Wijayanti, Manajer Relasi Eksternal EwasteRJ mengatakan, EwasteRJ juga menggunakan media sosial instagram untuk memberikan informasi mengenai bahaya sampah elektronik. Hal ini dilakukan untuk mengedukasi masyarakat bahwa sampah elektronik harus dikumpulkan di tempat khusus dan tidak bisa dicampur dengan sampah lain.

Dari data yang terkumpul selama tiga tahun, komunitas Ewaste-RJ mencatat telah mengumpulkan total 1,5 ton sampah elektronik. “Di tahun 2016 kita berhasil mengumpulkan 569 kilogram, tahun 2018 627,4 kilogram, dan di 2019, 869 kilogram,” ucap Prananda.

Konsumen dan Produsen Harus Bertanggung Jawab

Menurut Rafa, masyarakat tidak bisa menolak pertumbuhan teknologi yang semakin canggih. Namun, sebagai konsumen, setiap individu bertanggung jawab atas sampah elektronik miliknya. “Kita mau pemilahan dan daur ulang e–waste menjadi sebuah kebiasaan bagi masyarakat,” kata dia.

Selain itu, perusahaan atau produsen elektronik, ucap Rafa, seharusnya bertanggung jawab dengan peralatan yang dibuatnya. Misalnyan dengan mendaur ulang sampah produk tersebut.

Pranandya menambahkan, selama ini masyarakat hanya berfokus pada sampah organik dan anorganik. Padahal terdapat jenis sampah lain, yaitu sampah B3. Meskipun jumlahnya tidak sebanyak sampah organik dan anorganik, tetapi bahayanya jauh lebih besar jika tidak diatasi dengan benar.

“Harapannya masyarakat bisa lebih aware dan bergerak secara nyata. Minimal mengumpulkan sampah elektroniknya dan menyalurkan ke tempat yang memang bisa mengolah itu dengan benar,” ucap Pranandya. (*)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0