Komunitas Indonesia Berkebun, Mengembalikan Budaya Menanam

HomeKomunitas

Komunitas Indonesia Berkebun, Mengembalikan Budaya Menanam

Komunitas Indonesia Berkebun didirikan pada 2010 atas inisiatif dari berbagai latar belakang profesional, yakni Sigit Kusumawijaya, Achmad Marendes, dan Shafiq Pontoh. Setahun kemudian, Indonesia Berkebun bersama komunitas Jakarta Berkebun melangsungkan kegiatan menanam perdana dengan memanfaatkan ruang terbuka hijau.

CRCS UGM dan WatchDoc Luncurkan Film Beta Mau Jumpa
Para Hakim, Yuk Ikuti Lomba Vlog IKAHI
Bencana Alam, Media Sosial dan Relawan 69
2 min read

Bercocok tanam telah menjadi budaya yang melekat di masyarakat Indonesia sejak dahulu. Masyarakat mengandalkan panen raya untuk memenuhi sumber pangan lokal dalam menghidupi keluarga. Sumber daya alam Indonesaia yang kaya membuat berbagai jenis sumber protein maupun karbohidrat dapat ditemui di sini. Lebih dari 77 jenis karbohidrat, 75 lemak dan minyak dpat ditemui di sini. Selain itu, 26 kacang-kacangan dan 380 jenis buah juga banyak yang bisa ditanam.

Namun, perkembangan dan pembangunan semakin mengancam lahan pertanian. Pada akhirnya, area tersebut berubah fungsi menjadi perumahan, ruko, hotel, hingga pabrik. Akibatnya, dapat memengaruhi budaya menanam yang bergantung dengan lahan semakin tergerus zaman.

Sebagai upaya menumbuhkan gerakan menanam di masyarakat perkotaan, lahirlah gerakan sosial Indonesia Berkebun. Komunitas ini bergerak untuk mengedukasi masyarakat perkotaan, memanfaatkan lahan yang terbengkalai untuk menanam, dan menjadikan lahan kosong menjadi kebun produktif.

Komunitas ini didirikan pada 2010 atas inisiatif dari berbagai latar belakang profesional, yakni Sigit Kusumawijaya, Achmad Marendes, dan Shafiq Pontoh. Setahun kemudian, Indonesia Berkebun bersama komunitas Jakarta Berkebun melangsungkan kegiatan menanam perdana dengan memanfaatkan ruang terbuka hijau. Mereka bekerja sama dengan springhill Group dan The Green Court. Antusiasme masyarakat kota dari berbagai kalangan turut hadir menyemarakkan kegiatan menanam.

Indonesia Berkebun memiliki konsep 3E, yakni ekologi, ekonomi, dan edukasi. Arsitek dan Co-inisiator ID Berkebun, Sigit Kusumawijaya menuturkan konsep ini bertujuan untuk mengembalikan kesuburan lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal. Menurutnya dengan melakukan kegiatan berkebun di rumah setiap hari dan menghasilkan hasil panen yang berbeda-beda, diharapkan dapat mengurangi biaya ekonomi. Dengan konsep edukasi, ia juga mengajak masyarakat khususnya generasi penerus untuk mencintai lingkungan.

Komunitas ini memiliki program pelatihan dan pengembangan yang diberi nama Akademi Berkebun. Pelatihan yang diberikan seperti ilmu dasar berkebun, cara menanam, merawat, dan memanen hasil. Peserta atau anggota juga akan diberikan pengetahuan dasar mengenai cara berbisnis agrikultur.

Sigit menuturkan, selain berburu masyarakat sebetulnya memiliki garis DNA dari nenek moyang perihal berkebun atau bercocok tanam. Namun, karena pergerakan zaman, mayoritas penduduk urban atau kota jarang sekali menyentuh tanah. “Tetapi saya yakin orang kota pun bisa (menanam) kalau mau mencoba,” ucapnya, dalam diskusi daring Membangun Ketahanan Pangan dari Rumah, Jumat, (15/5/ 2020) pekan lalu.

Aktivitas Indonesia Berkebun telah diikuti oleh pegiat-pegiat dari berbagai kota. Mereka tergerak dan ingin melakukan aksi serupa di kota masing-masing. Saat ini komunitas Indonesia Berkebun telah memiliki jejaring di seluruh Indonesia, sekitar 50 di antaranya tersebar dari Aceh hingga Merauke.

Indonesia memiliki sumber pangan dan sumber daya alam yang sangat melimpah. Sumber tersebut juga tidak berada jauh dari tempat tinggal masyarakat sehingga tidak ada alasan untuk mulai menanam dan berkebun. Bagi masyarakat perkotaan atau urban, keterbatasan lahan untuk menanam dapat disiasati dengan memanfaatkan atap rumah (rooftop). Kegiatan berkebun di rumah juga dapat dilakukan menggunakan pot atau konsep kebun vertikal, hidroponik, hingga vertikultur.

Sigit menyarankan bila ingin memulai, hendaknya menanam tanaman yang durasi tumbuhnya relatif cepat seperti kangkung, bayam, pokcoy, selada, dan tomat.  “Itu sangat mudah untuk dicoba, pengaplikasiannya bisa dipraktekkan di mana saja,” kata dia. (*/Rio-Greeners)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0