Menguak Mitos Candi Sukuh di Kaki Gunung Lawu

HomeTravelling

Menguak Mitos Candi Sukuh di Kaki Gunung Lawu

Candi Sukuh dibangun pada Abad XV atau bertepatan dengan masa pemerintahan Raja Brawijaya V, penguasa Majapahit yang kala itu berkuasa di Jawa Tengah.

Antelope Canyon yang Lagi Hits, Ngarai yang Berubah-ubah Warna
Masjid Kobe yang Kokoh dan Selamat dari Perang Dunia II
Museum Bunker Tirpitz  Peninggalan Perang Dunia II
2 min read

Setelah satu jam berkendara dari pusat kota Karanganyar ke Kebun Teh Kemuning, hamparan hijau kebun teh sudah terlihat. Perbukitan yang meliuk menjadikan kebun teh lebih terpola.

Salah satu daya tarik utama di Kebun Teh Kemuning ini adalah kisah historis yang terangkum dalam beberapa candi yang eksotik. Tidak mau terlewatkan, saya pun memulai dengan menyambangi Candi Sukuh yang kerap disebut sebagai The Last Temple.

Sebutan ini tidak terlepas dari keruntuhan Kerajaan Majapahit pada abad XV. Sejak itu tidak lagi ditemukan pembangunan candi. Berdasarkan catatan sebuah prasasti, Candi Sukuh dibangun pada Abad XV atau bertepatan dengan masa pemerintahan Raja Brawijaya V, penguasa Majapahit yang kala itu berkuasa di Jawa Tengah.

Bangunan utamanya berundak dan memiliki tiga teras. Jauh beda dari candi Hindu yang umumnya berbentuk bujur sangkar, dengan bagian pusat atau tengah yang dianggap paling suci.

Candi yang terletak di Desa Berjo tersebut memiliki relief-relief yang juga mengandung unsur angka sembilan, lima, tiga, dan satu. Jika dibalik, akan membentuk angka tahun 1359 Saka atau sekitar tahun 1437 Masehi. Keunikan candi ini pun kerap disandingkan dengan bangunan ikonik Chichen Itza di Meksiko karena memiliki bentuk yang hampir sama.

Tidak hanya Candi Sukuh, di kaki Gunung Lawu ini juga memiliki satu candi megah lainnya yang letaknya tepat di pintu masuk pendakian Gunung Lawu. Adalah Candi Cetho, candi yang terletak di ketinggian sekitar 1.496 meter di atas permukaan laut. Candi peninggalan Kerajaan Majapahit ini berada di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jemawi, atau sekitar 20 menit perjalanan dari Candi Sukuh.

Candi yang bercorak Hindu ini diperkirakan selesai dibangun pada 1475 M (1397 Saka). Lokasinya yang berada di dataran tinggi membuat candi ini juga disebut sebagai candi di atas awan.

Gapura-gapura yang berlapis membuat candi ini menjadi objek foto yang menarik. Apalagi kala momen matahari akan tenggelam, wisatawan akan rela mengantre untuk berfoto di gapura pintu masuk candi dengan latar dataran tinggi.

Segarnya Air Terjun Jumog

Penutup perjalanan dari Kebun Teh Kemuning, adalah Air Terjun Jumog di Desa Berjo yang jadi destinasi terakhir saya sembari bersantai. Lokasinya yang  tersembunyi membuat air terjun ini jadi tempat menghabiskan hari yang tepat. Kawasan air terjun ini pun sudah ditata dengan baik. Beragam fasilitas cukup lengkap seperti mushala, toilet dan kantin untuk bersantai.

Tantangan pertama bila menuju Air Terjun Jumog ini adalah harus menuruni 116 anak tangga dan kemudian dilanjutkan berjalan kaki kurang lebih 100 meter. Namun, semua akan terbayar di air terjun ini.

Meski tingginya tidak lebih dari 30 meter, debit airnya tetap deras bahkan di musim kemarau sekali pun. Airnya begitu jernih dan segar. Maka tak heran kalau wisatawan yang berkunjung ke Air Terjun Jumog ini senang bermain dan merendam kaki di aliran sungai yang meneruskan limpahan air terjun.

Perlahan kesejukan Air Terjun Jumog kian melenakan. Menghabiskan hari di dataran tinggi Karanganyar yang menawan, sejarah yang terawat, serta keelokan alam yang istimewa. Sebuah pengalaman baru yang tidak terlupakan di dataran tinggi Jawa Tengah. (*)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0