Menimbang Ulang Pencerahan Sekular

HomeBuku

Menimbang Ulang Pencerahan Sekular

Judul Buku: The Secular Enlightenment | Penulis: Margaret C. Jacob | Penerbit: Princeton University Press, USA | Tebal: xi + 339 halaman | Cetakan: Pertama, 2019

Sebuah Teologi Pembebasan dalam Islam
Dunia Arab, Antara Nasser dan Qutb
Wahhabi, Sufisme, dan Penghancuran Budaya
5 min read

Masa pencerahan selalu menarik untuk diulas. Sudah begitu banyak ulasan terhadap masa yang dianggap telah membawa benua Eropa memasuki era kemajuan pesat. Banyak misteri selama masa pencerahan ini. Perlu diungkap, butuh disingkap. Jangan biarkan terus menjadi misteri. Apalagi bagi para agamawan, ulasan masa pencerahan masih dibutuhkan guna menyelami berbagai segi pencerahan, plus misterinya. Ditambah lagi, sejarah pencerahan sesungguhnya merupakan sejarah capaian-capaian manusia menyelesaikan persoalan keseharian secara logis dan rasional. Bukan untuk menandingi agama, tapi untuk mendampinginya.

Jika sejarah peradaban dari belahan kontinen lain bisa jadi memperlihatkan ciri-ciri religiusitas di dalamnya, maka sejarah peradaban Eropa selama ini diidentikkan nihil dari ciri-ciri tersebut. Bahkan anggapan lebih jauh menyatakan masa pencerahan Eropa menjadi pangkal keretakan manusia Eropa dari religiusitas. Ibaratnya, manusia Eropa memasuki era pencerahan setelah selama berabad-abad sebelumnya digelapkan oleh sentimen keagamaan, fanatisme serta kekolotan tiada henti.

Margaret C Jacob, penulis buku ini, merupakan sejarawan sohor yang tinggal di Los Angeles, berusaha mendudukkan soal pencerahan itu secara proporsional. Ia melacak jejak pencerahan Eropa lewat arsip-arsip langka tersimpan di Eropa serta karya-karya yang ditulis para pemikir bebas, kaum freemason sampai kaum materialis Prancis dan para pengikutnya. Pelacakan mendalam ini bertujuan menyingkap bagaimana sesungguhnya situasi pencerahan sekular Eropa tersebut.

Argumen pokok dalam buku ini adalah meluruskan kesalah-pahaman publik, bahwa pencerahan Eropa sepenuhnya menolak kristianitas. Dengan bahasa yang lebih umum, pencerahan menolak pandangan keagamaan. Kesalah-pahaman ini dibantah melalui bukti-bukti bahwa pencerahan yang terjadi di Eropa merupakan ruang mental menghadapi tantangan keseharian.

Para pemikir Eropa pada masa itu berusaha mencari jawaban yang bisa diterima semua pihak, bukan hanya pihak tunggal. Walau kemudian jawaban tersebut harus berhadapan lawan otoritas pemerintahan atau keagamaan, yang sebelumnya dominan. Oleh karena itu, masa pencerahan bisa dikatakan sebagai masa pencarian akal sehat (sommon sense) untuk publik. Pada ujungnya, lahir berbagai disiplin keilmuan bertolak dari akal sehat tersebut. Salah-satu contoh adalah kebangkitan kesadaran menentukan nasib sendiri dalam jalur politik berujung menguatnya demokrasi sekular.

Warga tercerahkan mengacu pada prinsip-prinsip publik yang termuat dalam karya-karya para pemikir pencerahan seperti John Locke, Voltaire atau Rousseau. Prinsip tersebut diantaranya mendorong warga agar peduli pada nasib sendiri. Yang bisa mengubah nasib sendiri adalah mereka sendiri, bukan raja apalagi kaum bangsawan. Tidak boleh ada dominasi elit mempengaruhi warga yang menciptakan ketergantungan publik semata pada raja atau bangsawan.

Pencerahan bukanlah menyangkal makna apalagi emosionalitas keagamaan, melainkan pencerahan merupakan upaya menggeser secara bertahap perhatian dari pertanyaan-pertanyaan religius ke sekular. Kaum pemikir bebas melihat berbagai kemungkinan jawaban atas pertanyaan sehari-hari, dari penjelajahan terhadap seni, ilmu pengetahuan, musik, politik dan sebagainya.

Selama abad ke-16 sampai abad ke-17, proses sekularisasi kehidupan Eropa ini berlangsung secara bertahap. Melubernya penerjemahan karya-karya asing ke dalam bahasa Eropa ikut mendorong rasa ingin tahu warga terdidik. Setelah melalui tahap ini, lalu mereka masuk ke dalam tahap merefleksikan berbagai persoalan atau pertanyaan sehari-hari.

Jawaban yang mereka cari bukan dari ulasan-ulasan keagamaan, melainkan dari argumen serta logika ilmu pengetahuan yang marak saat itu. Jawaban bersifat ‘saat ini dan disini’ (duniawi), yang artinya bukan bersifat eskatologi (keukhrawian) sebagaimana ulasan-ulasan religius. Jawaban tokcer ini terus meningkat dan menjadi sumber pemikiran inovatif Eropa, diantaranya tentang kemasyarakatan, pemerintahan serta perekonomian. Fakta ini memperlihatkan sesungguhnya tahap perjalanan pencerahan Eropa, sekali lagi, bukan menafikan apalagi menyangkal jawaban eskatologi khas agama, tapi lebih pada penempatan jawaban berpijak pada realitas saat itu.

Contohnya, pada pertengahan abad ke-17, para grubesar Astronomi Belanda menghapus mata kuliah Astrologi. Penghapusan ini berkait pada cara pandang baru terhadap alam semesta. Astrologi, tentu saja, dipenuhi dengan asumsi yang belum terbuktikan secara ilmiah, jadi lebih baik dihapus saja dari daftar mata kuliah. Dan, sepanjang kurun ini, pemikiran filsuf Baruch Spinoza sangat mempengaruhi para ilmuwan Eropa. Spinoza mendorong pendekatan rasional terhadap eksplorasi alam semesta.

Pengaruhnya bahkan sampai ke abad 18. Melintasi Belanda, masuk ke Inggris dan Jerman. Pemikir Johann Herder yang masih kuat berkeyakinan Lutheran atau Samuel Taylor Coleridge, menyuntikkan ulasan universalnya ke dalam alam pikiran keagamaan. Seperti yang dilakukan Francis Bacon, Robert Boyle serta Isaac Newton pada abad ke-17. Ketiganya menjadi contoh paling aktual bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan justru digunakan untuk melayani pemahaman keagamaan. Keberanian para ilmuwan menggebrak kebekuan pemikiran keagamaan menjadi daya pikat tersendiri bagi publik.

Bahkan, sohib karib Newton, Samuel Clarke, menyebar tafsir baru lebih bebas atas doktrin keagamaan pada para pengikutnya seantero Eropa. Samuel berpijak pada apa yang disebut sebagai teologi berbasis fakta empiris, biasanya lazim disebut teologi fisis. Produk-produk pemikiran serta ilmu pengetahuan digunakan sebagai pondasi baru memperkuat keyakinan agama. Agama tidak dipertentangkan pada produk ilmu pengetahuan, melainkan produk sains menjadi peneguh keyakinan agama.

Buku ini berisi delapan bab. Diawali pembahasan meluasnya ruang eksplorasi keilmuan. Setelah tercabik-cabik perang pada abad ke-17, timbul krisis politik di Eropa. Revolusi fisik pada tiga kerajaan di kepulauan Inggris, terdongkelnya otoritas Spanyol dari Belanda dan rusaknya Eropa tengah dampak perang 30 tahun, semuanya memporak-porandakan tatanan yang ada. Thomas Hobbes, John Locke, Grotius dari Belanda dan Spinoza berusaha mencari dasar baru tatanan politik. Para pemikir itu menolak monarki absolut dan hak ilahiah raja. Mereka mengubah poros kekuasaan negara dari monarki pada kesepakatan sosial. Negara berdiri atas kesepakatan sosial, bukan atas kehendak raja yang mengklaim mewakili Tuhan di dunia.

Pandangan ini lantas meluas. Pada saat yang sama, aneka karya sastra bermunculan. Publikasi karya itu tersebar luas secara klandestin. Menjangkau publik, memperkenalkan gagasan-gagasan baru. Sastrawan Diderot asal Prancis menjadi idola. Karyanya dibaca lalu diulas. Semangat pembebasan terasa dimana-mana. Delegitimasi pada monarki serta peradilan terus berlangsung akibat keridakpercayaan pada raja. Satir Voltaire selalu ditunggu. Sastrawan ini menulis begitu indah. Ulasannya gampang dicerna awam, bahasannya tak pernah suram. Jenaka mendorong gelak-tawa. Gaya hidup sekular terus berkembang walau sesekali pada agama bersitegang.

Tak bisa dipungkiri, semangat pencerahan pada mulanya tertuju pada kehidupan individu serta perbaikan struktur politik. Semangat ini memang ikut mewarnai karya seni, budaya serta cara inovatif dalam pengembangan keduanya. Ekspresi pencerahan tidaklah tunggal, sebab muncul berbagai bentuk. Bahkan, para agamawan progresif Eropa merespon semangat pencerahan justru untuk lebih meningkatkan keyakinan agamanya.

Kehidupan sekular bisa berarti bebas sepenuhnya dari pengaruh agama, tapi kehidupan sekular itu sendiri membuka ruang penafsiran baru atas doktrin baku agama. Pada wilayah penafsiran inilah sering terjadi perdebatan tanpa henti. Ekses dari perdebatan yang sudah terjadi tiga ratus tahun lampau, kini bisa mendadak muncul kembali. Dalam kaitan inilah, penulis buku ini menggaris-bawahi, bahwa manusia membutuhkan ruang bebas tapi jangan kebablasan. (*)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0