Meski Mendapat Ancaman, Diskusi Papua Tetap Digelar

HomeBerita

Meski Mendapat Ancaman, Diskusi Papua Tetap Digelar

Meski sempat mendapat Diskusi tersebut akan digelar secara virtual pada hari ini, Kamis, 11 Juni 2020 Pukul 19.30, dihadiri semua pembicara.

Kisah Inspiratif Kapten Tom, Veteran Perang Dunia II
Polri Didesak Ungkap Dalang Penyerangan Novel
Daftar Daerah yang Bisa Lihat Gerhana Matahari Cincin Esok
2 min read

Bandarlampung, Falsafah.ID – Unit Kegiatan Mahasiswa Teknokra Universitas Lampung atau Unila mendapatkan sejumlah teror dari orang yang tidak kenal karena diduga mengadakan diskusi bertema diskriminasi rasial terhadap Papua.

Teror tersebut diterima oleh dua anggota Teknokra melalui pesan singkat WhatsApp sampai meretas akun ojek online. “Iya ada teror sampai memberikan ancaman,” ujar Pemimpin Umum Teknokra, Chairul Rahman Arif, melalui keterangan tertulis, Rabu (10/6/2020).

Chairul juga menerima sejumlah pesan bernanda ancaman bahkan menyertakan alamat dan indentitas ke dua orang tuanya. Dalam pesan tersebut diskusi soal rasial terhadap Papua dituding sebuah provokasi.

“Maksudnya apa bikin diskusi yang memprovokasikan banyak masyarakat. Data kamu sudah kami pegang,” bunyi pesan ancaman tersebut.

Sedangkan peretasan akun ojek online dialami oleh moderator diskusi Mitha Setiani Asih yang juga merupakan Pimpinan Redaksi Teknokra.

Menurut Mitha peretasan itu bermula pukul 19.39, ia mendapatkan pesan kode OTP Gojeknya.

“Namun, saya tidak terpikir akan mengalami peretasan. Saya sedang mengakses YouTube, pesan WhatsApp masuk dari driver gojek “P”. Saya tidak menduga pesan itu dari gojek, saya kira hanya nomor orang yang iseng. Telpon saya terus berdering, ratusan kali dari driver gojek,” jelas Mitha

Dari situlah Mitha menyadari bahwa akun gojeknya diretas. Ia kemudian berinisiatif menemui salah satu driver dan mengatakan bahwa akunnya diretas. Peretasan bisa teratasi ketia ia berhasil menghubungi Call Center gojek untuk menutup akun gojeknya.

Tak hanya akun gojek, Mitha juga menyebut akun instagram dan facebooknya juga tak bisa diakses.

“Pukul 22.57 akun Instagram dan Facebook saya tidak bisa diakses. Sekitar pukul 02.00 WIB, Akun saya bisa login, dan saya berinisiatif mengganti sandi namun tidak bisa. Dan ada aktivitas login di Australia,” terang Mitha.

Akibatnya kata Chairul sejak tadi siang sejumlah pesanan makanan tiba-tiba datang tanpa ada yang memesan.

Diskusi tetap digelar

Meski sempat mendapat Diskusi tersebut akan digelar secara virtual pada hari ini, Kamis, 11 Juni 2020 Pukul 19.30, dengan menghadirkan sejumlah pembicara yaitu Surya Anta Ginting juru bicara Front Rakyat Indonesia for West Papua, Jhon Gobai Ketua Aliansi Mahasiswa Papua dan Tantowi Anwar dari Serikat Jurnalisme untuk Keberagaman (Sejuk).

Hasil pantauan falsafah.ID diskusi via zoom dan ditayangkan live lewat chanel youtube Teknokra, diskusi daring tersebut berjalan lancar. Masing-masing nara sumber yang hadir bersepakat bahwa persoalan Papua adalah persoalan bersama semua anak bangsa.

“Masalah Papua adalah masalah kita semua,” tegas Surya Anta

Sementara Jhon Gobai berpendapat bahwa rasisme itu terjadi karena ada pembiaran dari negara.

“Negara di sisi lain melakukan pembiaran pelaku rasis memelihara rasis dengan membiarkan pelaku rasisme atau memberikan hukum yang ringan, sedangkan di sisi lain menangkap pejuang yang melawan rasisme dan menghukumnya dengan hukum seberat-beratnya.

Chairul menyatakan bahwa diskusi tersebut untuk memberikan pandangan lain atas permasalahan rasial yang menjadi sorotan dunia saat ini.  Menurut dia, isu rasis juga masih ada di Indonesia seperti yang dialami masyarakat Papua, salah satunya kasus yang terjadi kepada mahasiswa Papua di Surabaya pada tahun lalu.

“Semboyan Indonesia Bhineka Tunggal Ika. Kita kembalikan kesadaran ini bersama-sama melalui diskusi terbuka ini, sehingga kita bisa menghargai satu sama lain,” katanya.

Hingga akhir diskusi terdapat 772 partisipan yang terlibat diskusi dengan ragam komentar. (*)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0