Pahlawan Kemanusiaan di Persimpangan Jalan Ibu Pertiwi

HomeOpini

Pahlawan Kemanusiaan di Persimpangan Jalan Ibu Pertiwi

Di dalam sebuah beranda sosial media, saya mendapati foto-foto tim medis yang berseliweran di lini masa yang tulisannya kurang lebih berbunyi seperti ini. “Kami Berikan Jasa Kami, Jangan Tolak Jasad Kami”. Saya sungguh terenyuh. Sebegitu beratnyakah persoalan dan realitas yang mereka hadapi saat ini sampai-sampai mereka meminta dengan tulus untuk tidak menolak jasad mereka jika Tuhan berkehendak mencabut nyawa mereka!

Putih itu Cantik, Cantik itu Putih?
Bencana Alam dan Ekonomi Biru
Kasus Panti Asuhan Mulai Proses Pidana
6 min read

Tulisan pendek ini hendak memotret realitas sosial yang dialami oleh seluruh relawan kemanusiaan (wabil khusus tenaga medis) semasa perang melawan virus corona. Terus terang saya terinspirasi dengan pernyataan Jalaluddin Rahmat, salah satu penulis kenamaan di negeri ini yang saya kenal dengan membaca karya-karya intelektualnya. Ia pernah mengatakan bahwa seorang intelektual adalah yang mampu membaca hal-hal yang kecil di lingkungannya lalu memberikan respons atau solusi di sana. Seorang intelektual harus menyebarkan gagasan pemikiran, dan menghadirkan solusi-solusi menyegarkan sehingga membuktikan bahwa ia tak hanya berada di menara gading.

Sepintas lalu pernyataan di atas mengingatkan kita bahwa jika hal terkecil saja kita dituntut untuk selalu memberikan tanggapan. Maka tidak ada alasan memberikan respons terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan yang tengah hadir di tengah-tengah masyarakat kita hari ini. Duka mendalam atas kepergian rekan-rekan sejawat dokter dan perawat dalam perjuangan melawan corona (Covid-19), menurut hemat penulis bukan lagi hal kecil dan remeh temeh. Ia adalah masalah besar yang perlu dipotret sebagai sebuah masalah bersama dalam rangka menghidupkan kembali rasa kemanusiaan yang seolah mulai redup.

Masa-masa ini adalah situasi yang amat genting. Seluruh tim medis dan para ahli kesehatan tak terkecuali relawan kemanusiaan dibantu Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polisi Republik Indonesia (Polri) beserta stekholder lainnya, bahu membahu memutus rantai penularan virus ini. Kita saksikan di seluruh wilayah, mulai dari desa, kecamatan hingga kabupaten semua bergerak bersama membentuk tim gugus Covid-19 untuk mengurangi memburuknya kesehatan masyarakat yang lebih serius.

Namun, dalam pengendalian penyakit berbahaya ini harus diakui bahwa tim dokter dan perawatlah yang paling banyak mendapat resiko tinggi dalam banyak situasi. Mereka yang banyak berhubungan dan berinteraksi langsung dengan pasien terpapar virus, membawa konsekuensi penularan yang mengancam keselamatan hidup mereka.

Nestapa dan Duka Cita untuk Dokter

Para dokter harus berjibaku mengentaskan virus ini meskipun dengan peralatan seadanya (Baca; Keterbatasan APD). Mereka banyak memilih konsekuensi yang lebih sulit. Ia harus berpisah dari kasih sayang istri/suami dan anak-anaknya, dari ibu dan saudara untuk hidup sebagai relawan kemanusiaan di negerinya. Para dokter harus menutup bisnisnya, meninggalkan zona nyamannya, dan hidup dalam bayang-bayang kematian, untuk berjuang demi banyak orang.

PAGES

1 2 3 4

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0