Pasar Unik di Tengah Kebun Bambu, Tempat Bernostalgia dan Belajar Budaya

HomeKomunitas

Pasar Unik di Tengah Kebun Bambu, Tempat Bernostalgia dan Belajar Budaya

Pasar Kebon Watu Gede. Pusat transaksi jual-beli dalam skena wisata ini berada di Dusun Jetak, Desa Sidorejo, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Jaraknya hanya sekitar 5 kilometer dari pusat Kota Magelang. Pasar ini buka hanya pada hari Minggu Legi dan Minggu Pahing dalan penanggalan Jawa. Magnet pemikat wisatawan.

Catahu Komnas Perempuan: Indonesia Belum Menjadi Negara Aman Bagi Perempuan
Komunitas Turun Tangan Sediakan Konseling Gratis Bagi ODP
Sebelas Organisasi Pemuda Nyatakan Keprihatanan Atas Intoleransi di India
3 min read

Keramaian di tengah kebun mungkin bukan hal baru. Namun, lain ceritanya bila kebun yang dimaksud adalah lahan yang dipenuhi tanaman bambu, dengan batang-batang kokoh menjulang tinggi.

Bukan sengaja kami forest bathing di hutan bambu ini. Niat awalnya tentu saja jalan-jalan sembari menikmati satu atau dua suap kudapan lezat serta mencicipi minuman tradisional yang segar dan bercita rasa manis.

Aktivitas santai pengisi liburan berteman aroma khas pepohonan dan tanah lembap seperti ini tak banyak bisa kami temukan di Ibu Kota.

Bermula dari informasi seorang saudara ketika berkunjung ke rumahnya, berangkatlah kami ke pasar yang unik dan menarik itu. Tidak lazim, memang. Pasar ini tidak seperti pasar pada umumnya karena buka hanya pada hari Minggu Legi dan Minggu Pahing menurut penanggalan Jawa.

Pasar Kebon Watu Gede

Demikian warga setempat menamakan pasar itu. Pusat transaksi jual-beli dalam skena wisata ini berada di Dusun Jetak, Desa Sidorejo, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Jaraknya hanya sekitar 5 kilometer dari pusat Kota Magelang.

Pasar ini mudah ditemukan dari Bandongan, Magelang. Gerbang utama yang terbuat dari bambu bertulisan Pasar Kebon Watu Gede terlihat cukup jelas di pinggir jalan raya Bandongan-Windusari.

Kendaraan, baik mobil maupun motor, hanya bisa sampai di sini. Tak perlu khawatir soal keamanannya karena terdapat lahan parkir cukup luas.

Usai memarkir kendaraan, kami segera melanjutkan perjalanan menuju pasar tersebut. Jarak dari tempat parkir ke pasar ini sekitar 900 meter, dapat ditempuh dengan menyewa ojek atau menunggang kuda. Bisa juga berjalan kaki.

Perjalanan singkat dari tempat parkir menuju pasar ini sangat menarik. Jalan selebar 1,5 meter tersebut membelah hamparan sawah dan melewati pepohonan bambu.

Di sepanjang jalan, tersedia banyak spot dengan berbagai hiasan dan aksesori yang bisa dijadikan tempat selfie. Seperti anyaman bambu yang digantung di tengah jalan dengan bambu di kiri kanan jalan.

Kemudian, ada juga beberapa gazebo kecil atau gubuk-gubuk bambu di pinggir jalan. Bisa untuk sekadar istirahat melepas lelah, atau untuk berfoto-ria dengan latar sawah maupun Gunung Sumbing. Berbagai titik menarik sepanjang jalan ini membuat perjalanan menuju pasar tidak membosankan.

Mendekati lokasi pasar yang penuh dengan pohon bambu, suara gemericik air dari sungai di sekitar lokasi seakan menyambut kedatangan kami.

Suasana sejuk langsung terasa begitu kami masuk area Pasar Kebon Watu Gede. Uniknya, pasar terletak di tengah-tengah hamparan sawah perdesaan dengan pemandangan Gunung Sumbing di sebelah barat dan Gunung Merapi serta Merbabu di sebelah Timurnya.

Gubuk-gubuk yang terbuat dari bambu menjadi tempat jualan. Rindangnya rumpun bambu membuat siapa pun yang datang akan merasa teduh dan nyaman.

Untuk berbelanja di pasar ini kita harus membeli benggol atau koin yang terbuat dari kayu khusus. Nilai per benggol setara Rp 2.000. Pengunjung harus menukarkan uang rupiah dengan benggol yang terletak di pintu masuk.

Benggol yang sudah dibeli tidak bisa ditukar uang kembali. Jika benggol tidak habis pada hari itu, bisa dibelanjakan pada bukaan pasar berikutnya.

Setelah menukar uang dengan benggol, kami berkeliling mencari barang maupun makanan sesuai selera masing-masing. Pasar ini menyajikan ragam kuliner tradisional dan barang-barang tradisional lainnya.

Pasar Kebon Watu Gede ini dibagi menjadi dua area. Sebelah selatan untuk jenis kerajinan mainan berbahan kayu dan baju. Juga deretan kuliner lokal seperti gudeg, soto, aneka jenis sate, kletikan atau camilan kering, dan lain sebagainya.

Sedangkan di sebelah utara untuk jenis makanan manisan atau biasa disebut legian. Legi dalam bahasa Jawa berarti manis. Aneka jajanan tempo dulu seperti kue cucur, lopis, es dawet, lanting, rondo kemul , dan masih banyak lagi.

Harga makanan dan minuman lumayan terjangkau yaitu antara 1 sampai 10 benggol. Menariknya lagi adalah para pedagangnya mengenakan pakaian tradisional.

Pengunjung pun tidak hanya berasal dari daerah Magelang dan sekitarnya, melainkan ada yang dari luar kota Magelang seperti, Semarang, Yogyakarta, bahkan ada juga yang datang dari Jakarta.

Bila diperhatikan, konsep ramah lingkungan diusung dalam pasar ini. Itu tecermin dari aturan. Pengunjung pasar dilarang merokok. Sementara piring atau alas makan terbuat dari daun, batok kelapa, atau gerabah.

Kenangan masa kecil menyeruak ketika melihat deretan mainan tradisional yang dijajakan. Demikian juga deretan kuliner khas yang mungkin sudah mulai jarang kita temukan di kota-kota besar. Semua turut membangkitkan selera lama.

Bagi anak-anak yang diajak berkunjung ke pasar ini, mereka dapat mengenal salah satu dari ragam kekayaan budaya yang ada di Indonesia. Sementara bagi orang tua, sudah tentu nostalgia. (*)

Newer Post
Older Post

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0