Pengamat: Pendidikan Jarak Jauh Harusnya Memerdekakan

HomeBerita

Pengamat: Pendidikan Jarak Jauh Harusnya Memerdekakan

Daerah Terpencil Terkendala Komunikasi

Jakarta, Falsafah.ID - Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta, akan mulai berlaku pada Jumat (10/04) mendatang.PSBB merupakan pembatas

Dewan Ulama Arab Saudi Minta Umat Islam Ibadah Ramadhan di Rumah
Rintih Kelaparan TKI di Malaysia Saat Lockdown
IKAHI Distribusikan Bantuan Disinfektan, Hand Sanitizer dan Masker ke 41 Pengadilan
2 min read

Jakarta, Falsafah.ID – Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta, akan mulai berlaku pada Jumat (10/04) mendatang.PSBB merupakan pembatasan kegiatan tertentuuntuk penduduk dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi virus corona, demi mencegah kemungkinan penyebaran virus yang semakin luas.

Lewat Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) RI Nomor 9 Tahun 2020, sejumlah peraturan terkait pelaksanaan PSBB ditetapkan, salah satunya tentang peliburan sekolah. Kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah dihentikan sementara dan digantikan dengan media yang efektif, setidaknya hingga 14 hari ke depan.

Sebelum PSBB DKI Jakarta disetujui, sejumlah sekolah telah terlebih dulu meliburkan kegiatan belajar mengajar sebagai upaya peredaman penyebaran Covid-19. Sehingga sejumlah proses belajar di rumah dengan materi dari sekolah dan dibantu oleh orang tua murid telah dilaksanakan.

Pengamat pendidikan, Budi Trikorayanto mengatakan bahwa orang tua harus mencari cara efektif untuk proses belajar di rumah, mengingat sebelumnya proses belajar mengajar dilakukan guru dan murid di sekolah.

‘‘Orang tua sebenarnya juga harus dibimbing, jadi belajar secara jarak jauh, belajar mandiri itu harus berorientasi terutama kepada minat dan bakat anak, pada konteks setempat, pada lingkungan anak. Jadi bukan berorientasi pada standar kompetensi yang harus mereka lalui sesuai standar kurikulum, bukan itu,‘‘ ujar Budi, Rabu (8/4/2020).

Budi menambahkan, mengacu pada Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), proses belajar tidak lagi terpaku pada target kurikulum kenaikan kelas. Menurutnya hal ini masih sulit diterjemahkan oleh guru yang kebanyakan masih melihat kompetensi dasar yang harus dipelajari anak.

Tapi Budi menilai situasi dan kondisi pendidikan di tengah pandemi Covid-19 telah membuka mata banyak orang bahwa arah pendidikan harus menuju sistem edukasi 4.0, yakni pendidikan jarak jauh yang tidak lagi terikat pada standar kurikulum, melainkan pengembangan minat dan bakat anak murid dan memerdekakan proses belajar.

‘‘Jadi kita akan melihat perubahan yang sangat besar dalam dunia pendidikan, yang memerdekakan belajar, dan membebaskan. Akan timbul kekacauan sebagai proses belajar dari perubahan itu, dan memang terus berlanjut. Namun demikian tuntutan zaman kan memang ke arah sana (edukasi 4.0),‘‘ jelas Budi.

Kendala Komunikasi di Daerah Terpencil

Sementara di Kabupaten Asmat, Papua, Kepala Sekolah SD Darussalam Agats, Joni Effendi mengatakan bahwa komunikasi adalah kendala utama proses belajar mengajar di rumah. Joni mengatakatan, pertukaran pesan singkat bisa terkirim setelah beberapa menit hingga dua jam kemudian.

‘‘Kendala yang dihadapi guru secara umum terutama jalur komunikasi antar guru dan siswa, yaitu kurangnya komunikasi secara online dan tentunya via SMS, yang terkadang juga jaringan kita ini paket datanya terlambat,‘‘ ujar Joni.

Menanggapi sulitnya akses informasi di daerah terpencil dan ketersediaan media yang efektif untuk proses pembelajaran, Kepala Biro Komunikasi Kemendikbud Ade Erlangga Masdiana menyampaikan bahwa sekolah perlu mencari alternatif lain mengatasi masalah-masalah dalam proses belajar di rumah.

‘‘Sebenarnya selama masa darurat kesehatan ini, penyelenggaraan (pembelajaran) pendidikan jarak jauh, tidak selalu harus dengan kekuatan jaringan internet atau infrastruktur telekomunikasi yang baik. Yang penting penyelenggaraan pendidikan yang menjadi hak siswa tertunaikan,’’ kata Ade melalui pesan tertulis, Rabu (08/04/2020).

Mengacu pada Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020, tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran COVID-19, Ade menyebut yang harus diperhatikan adalah bagaimana menyediakan pendidikan bermakna. (*/DW)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0