Perusahaan Mainan Barbie Beralih Ke Bioplastik Tanaman Tebu

HomeLifestyle

Perusahaan Mainan Barbie Beralih Ke Bioplastik Tanaman Tebu

Target Mattel di 2030 yakni memperluas prinsip keberlanjutan perusahaan. Baru-baru ini mereka memeroleh 93 persen kertas dan serat kayu dari sumber Forest Stewardship Council (FSC) yang melampaui target 2018 sebesar 90 persen. Perusahaan mainan ini juga telah mengadopsi label daur ulang standar pada setiap produk-produknya.

Kenang Chairil Anwar, 20 Sastrawan Gelar Pentas #Puisidirumahsaja
Beginilah Cara Orang Indonesia Menggunakan Smartphone
The Godfather 1972, Film Epik Terbaik tentang Mafia Italia
1 min read

Perusahaan mainan Mattel yang terkenal memproduksi boneka Barbie memiliki tujuan ambisius untuk memberi manfaat bagi lingkungan. Mereka merencanakan untuk beralih menggunakan bahan 100 persen daur ulang di setiap produknya.

Mattel ingin agar produk yang mereka ciptakan dikemas dalam bahan yang dapat didaur ulang atau berbasis bio pada 2030. Anak-anak dapat memperoleh mainan pertama yang dibuat secara berkelanjutan mulai tahun ini.

Perusahaan yang didirikan di Hawthorne ini terkenal karena memproduksi mainan seperti Hot Wheels, Barbie, dan Fisher-Price yang sudah ada sejak 1944. Pada 1960, Mattel meluncurkan mainan bayi Rock-a-Stack.

Kini mainan tersebut akan dibuat dari bio-plastik berupa tanaman tebu terbarukan dan sepenuhnya dapat didaur ulang. Bahan-bahan baru ini akan mengurngi limbah dan memungkinkan bahan mainan ini untuk digunakan kembali pada akhir masa pemakaian.

Presiden dan COO Mattel, Richard Dickson, mengatakan inovasi adalah bagian dari DNA mereka dan inti dari pekerjaan untuk kelestarian lingkungan. “Desainer kelas dunia kami secara konsisten menciptakan produk yang dapat diwariskan turun-temurun. Hari ini kami melanjutkan tradisi tersebut dengan mainan Rock-a-Stack berkelanjutan yangg baru. Rock-a-Stack adalah salah satu mainan paling ikonik dan terlaris di industri mainan,” ucap Richard.

Perusahaan mainan ini pun membentuk Dewan Keberlanjutan Lingkungan yang baru agar dapat menciptakan inovasi produk hijau. Mattel ingin menjadikan keberlanjutan sebagai prioritas utama tidak hanya di seluruh produk, tetapi juga pada desain pengemasan dan proses produksi.

Target Mattel di 2030 yakni memperluas prinsip keberlanjutan perusahaan. Baru-baru ini mereka memeroleh 93 persen kertas dan serat kayu dari sumber Forest Stewardship Council (FSC) yang melampaui target 2018 sebesar 90 persen. Perusahaan mainan ini juga telah mengadopsi label daur ulang standar pada setiap produk-produknya.

Patut diapresiasi melihat upaya Mattel yang berfokus menggunakan produk daur ulang pada mainannya. Semoga ini akan mendorong para pesaingnya untuk melangkah dan merangkul cara-cara alternatif untuk memproduksi mainan yang ramah lingkungan. (*)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0