Room to Read Kembangkan Aplikasi Literasi Digital

HomeBerita

Room to Read Kembangkan Aplikasi Literasi Digital

"Room to Read memahami bahwa pendidikan merupakan alat paling efektif untuk menyelesaikan tantangan terbesar dunia - seperti kemiskinan, krisis kesehatan, degradasi lingkungan dan ketidaksetaraan," ujar Direktur Ekspansi Strategis Room to Read, Joel Bacha.

SMP MUAD Kampiun LCC Kebudayaan dan Permuseuman se Kota Metro
Antisipasi Korona, Sumsel Siapkan Satgas Penanganan Wabah Covid-19
LBH Pers dan AJI Jakarta Buka Posko Pengaduan Bagi Pekerja Media Korban PHK
1 min read

Jakarta, Falsafah.ID – Di saat sekolah-sekolah di Indonesia meliburkan siswa demi mencegah penyebaran virus Covid-19, medium belajar digital literacycloud.org hadir sebagai sarana literasi siswa di rumah. Pelantar digital yang dikembangkan oleh Room to Read didukung Google.org menggabungkan video edukasi kegiatan membaca efektif untuk anak dengan ragam buku cerita yang menarik minat baca anak.

Selama pelantar digital ini diujicobakan di tiga kabupaten di Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Timur pada tahun 2019, Room to Read dan mitra lokal, Mutiara Rindang, Taman Bacaan Pelangi dan Yayasan Literasi Anak Indonesia, mendokumentasikan pembelajaran yang diperoleh dalam mengimplementasikan pelantar di konteks yang berbeda.

Room to Read memahami bahwa pendidikan merupakan alat paling efektif untuk menyelesaikan tantangan terbesar dunia – seperti kemiskinan, krisis kesehatan, degradasi lingkungan dan ketidaksetaraan,” ujar Direktur Ekspansi Strategis Room to Read, Joel Bacha.

Sebagai upaya lanjutan dalam mengembangkan efektivitas pola pengajaran guru dalam meningkatkan literasi siswa, Direktorat Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), turut mendukung kolaborasi Room to Read dengan ProVisi Education dalam menyelenggarakan seminar nasional untuk para guru di Indonesia. Seminar selama tiga minggu tersebut membahas optimalisasi pelantar digital untuk meningkatkan kebiasaan membaca siswa.

Seminar digital Room to Read dan ProVisi Education diikuti hampir 300 sekolah dari 97 kota di Indonesia. Seminar terbagi dalam lima sesi yang disampaikan secara interaktif kepada peserta. Pada setiap sesi, peserta yang terdiri dari dua orang guru dan satu kepala sekolah dipacu untuk aktif berdiskusi. Di sesi terakhir, perwakilan orang tua murid turut diundang untuk membagikan pengalaman mereka  dalam mendukung kebiasaan membaca anak di rumah. Selepas mengikuti seminar, para guru diminta membagikan hasil dari seminar kepada guru-guru lain di sekolah.

Kegiatan tersebut mendukung pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim soal pengembangan teknologi pedidikan. Ia mengatakan, memprioritaskan pengembangan teknologi dan digitalisasi untuk pendidikan di Indonesia dapat memfasilitasi sekolah untuk mengembangkan kebiasaan membaca anak-anak dan meningkatkan hasil belajar.

Sementara itu, Joel mengungkapkan, literasi merupakan sarana untuk memajukan pengetahuan masyarakat, termasuk anak-anak. Dengan membaca, anak dapat menemukan pengetahuan yang membantu mereka untuk mencari solusi dari permasalahan yang dihadapai ke depannya.

“Literasi memiliki kekuatan untuk memajukan seluruh masyarakat dan mengurangi masalah kritis sebagaimana anak-anak merupakan pembuat perubahan dan menciptakan jalur untuk memecahkan masalah sulit dengan cara-cara baru,” kata Joel. (*/cnn)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0