Sains dan Agama berkompetisi, Benarkah?

HomeBuku

Sains dan Agama berkompetisi, Benarkah?

Judul: Sains "Religius", Agama "Saintifik" | Penulis: Haidar Bagir & Ulil Abshar Abdalla | Tahun terbit: Juli 2020 | Penerbit: Mizan Pustaka | ISBN: 978-602-441-178-7 | Halaman: 152

Islam Futuristik Agama Saintifik (2)
Sains, Agama, dan Lain-Lain
Agama yang Objektif & Sains yang Subjektif (1)
2 min read

Agama dan sains, banyak orang yang salah paham terhadap posisi keduanya. Ada yang menganggap bahwa sains dan agama adalah dua arah yang tidak akan pernah ketemu atau saling bertabrakan. Sebab itu, tidak mungkin terjadi dialog yang hangat antara keduanya. Pasti akan terjadi “umpatan” dan saling “mengejek” bila disandingkan dalam satu kamar.

Kesalahpahaman ini mengakibatkan kedua kelompok ekstrem berseteru dan saling menihilkan fungsinya. Tidak hanya itu, tokoh-tokohnya menjadi “kasar dan pongah” apabila menerangkan tentang poin lawan mazhabnya. Mereka saling menepuk dan membusungkan dada. Menganggap mereka lah yang punya kesempatan lebih untuk menyandang kebenaran. Padahal, hubungan kedua titik kebenaran tersebut sangat erat dalam perkembangan sejarah kehidupan manusia.

Dalam sejarah panjangnya, keduanya (agama dan sains) tidak pernah berseteru atau dipersilangsengketakan, demikian menurut Haidar Bagir dalam buku “Sains Religius Agama Saintifik”. Pernyataan ini juga diperkuat oleh Ian G. Harbour dalam buku “Juru Bicara Tuhan”, bahwa sains dan agama awalnya berjalan bergandengan tangan, tetapi mulai abad ke 17 bercerai dan berseteru.

Menurut Haidar Bagir, perseteruan ini dimulai ketika sikap otoritarianisme muncul dikalangan agamawan gereja. Mereka memonopoli kebenaran, sehingga kebenaran di luar kebenaran gereja tidak memiliki eksistensi. Bahkan tokoh-tokohnya dianggap martir dan harus mati di tiang gantung. Kasus yang menimpa Copernicus dan Galileo Galilei adalah gelombang pemicu perseteruan panjang ini. Sejak itulah keduanya dicitrakan saling berseberangan.

Sejak itu muncullah pemikir-pemikir yang anti agama dan Tuhan yang mengatasnamakan kerja ilmiah saintifik. Mereka menghakimi agama dan pengikutnya sebagai orang-orang “bernalar rendah” dan mengagumi Tuhan yang tidak memiliki eksistensi. Mereka aktif mengkampanyekan ateisme dan mengguyur nalar-nalar agama dengan cercaan dan makian dengan nada membenci.

Agama dianggap sebagai biang dari kehancuran peradaban manusia, permusuhan dan pertumpahan darah dilakukan demi mempertahankan kebanaran atas nama Tuhan. Orang-orang yang beragama dianggap manusia yang gagal dewasa, mereka kurang bisa menerima perbedaan pendapat. Dan, selalu mengedepankan emosi dibandingkan melakukan observasi dan penyingkapan kebenaran berdasarkan metode ilmiah. Sementara mereka menganggap bahwa sains tidak pernah menumpahkan darah ketika terjadi perbedaan pendapat.

Ulil Abshar Abdallah, menganggap alasan yang diungkapkan sangat kasuistik dan tidak sepenuhnya benar. Pengkritik agama terlalu emosi dan menggeneralisir, seharusnya mereka juga berkaca bahwa sains tidak sepenuhnya memberi manfaat tetapi juga sangat berpotensi untuk membuat kekacauan. Misalnya, pengeboman yang terjadi di Hirosima dan Nagasaki disebabkan karena produk agama atau produk sains? Ini merupakan salah satu contoh efek kepongahan penguasaan atas sains. Sampai-sampai Albert Einstein menyayangkan penemuannya dipakai untuk melakukan kedzaliman dan penindasan.

Maksudnya apa? Pengajuan-pengajuan contoh tersebut bukan berarti kita ingin saling nenyalahkan. Cacatnya manusia sebagai subjek, bukan berarti objek pengetahuan juga menjadi korban caci maki. Agama (terutama Islam) tidak memiliki masalah dengan sains, justru agamawan Islam menerima secara terbuka posisi sains, bahkan mereka merupakan pionir dalam penyebarannya. Hal ini terlacak oleh sejarah ketika masa abad kejayaan Islam. Islam melahirkan banyak tokoh selain menguasai agama mereka juga menguasai cabang-cabang ilmu sains, seperti, Alkindi, Ibnu Sina, Al-Farabi, Alkhawarizmi, Ar-Razi, dll.

Jika merujuk kepada pemikiran Al-Farabi, keduanya adalah anak kembar yang memang sifatnya berbeda. Sumbernya adalah satu, hanya saja mereka memiliki cara pandang dan objek yang berbeda melihat realitas. Persoalannya ada pada pengagumnya, fans-fansnya terlalu fanatik. Sehingga mereka tidak lagi bisa menghubungkan status genetiknya. Sehingga mereka menjadikan kedua air dan api tanpa tembaga sebagai penyambung serta titik temu keduanya. (*)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0