Siapa Membela Kebebasan Beragama?

HomeBuku

Siapa Membela Kebebasan Beragama?

Judul: Membela Kebebasan Beragama (Buku 1) | Penyunting: Budhy Munawar Rachman | Tebal: 475+ halaman | Penerbit edisi cetak: Lembaga Studi Agama dan Filsafat-Yayasan Paramadina, 2010 | Penerbit edisi digital: Democracy Project, 2011

Kembalinya Agama yang Membebaskan
Rasisme Tak Surut Ditelan Waktu
Berbicara Tentang Tuhan
2 min read

Beberapa waktu lalu di group (Group FB: Esoterika – Forum Spritualitas) ini saya telah mengantarkan satu buku tebal penting yang merupakan karya disertasi Budhy Munawar Rachman, yakni Reorientasi Pembaruan Islam. Buku itu, menurut Budhy, bisa diperlakukan sebagai buku pendamping untuk buku yang lebih tebal ini: Membela Kebebasan Beragama.

Buku yang terdiri dari empat jilid tebal ini adalah percakapan tentang tiga tema yang sama: Sekularisme, Liberalisme, dan Pluralisme yang kemudian disebut oleh Mas Dawam sebagai Trilogi Pembaruan Islam.

Percakapan ini sangat menarik dan teramat penting untuk diabaikan ketika kita mengkaji latar belakang, konteks, perkembangan, argumen, dan pembelaan terhadap tiga isu strategis tersebut. Meski sangat mustahil untuk menganggap bahwa 70 tokoh dalam percakapan ini memiliki argumen yang sama terhadap tiga hal tersebut, namun setidaknya ada satu benang merah yang bagi Budhy, dan dinyatakan oleh pengantar bagus yang dibuat oleh Ihsan Ali Fauzi, Samsu Rizal Panggabean, dan Trisno Sutanto, yakni: kesemua tokoh tersebut berdiri pada titik yang sama: membela kebebasan beragama.

Capaian prinsip-prinsip kebebasan beragama di Indonesia sendiri merupakan capaian penting pasca-reformasi, seiring dengan diterimanya prinsip-prinsip yang sejalan dengan nilai hak asasi manusia yang berhasil diperjuangkan, terutama ketika konstitusi Indonesia diamendeman.

Apakah dengan demikian jaminan kebebasan beragama di Indonesia sudah selesai? Tentu tidak semudah itu.

Pada level konstitusi dan hukum juga masih terdapat bolong-bolong yang memungkinkan arah jaminan kebebasan beragama belum mencapai seperti yang diharapkan. Sebut saja klausul “nilai-nilai agama” yang masuk dalam pasal konstitusi sebagai salah satu alasan untuk melakukan pembatasan terhadap kebebasan beragama. Juga dipertahankannya UU PNPS tahun 1965 tentang penodaan agama yang memakan banyak korban dan menjadi salah satu ganjalan penting dalam kerangka jaminan tersebut. Inilah salah satu yang kemudian membuat seorang Jeremy Menchik menyebut nasionalisme kita sebagai godly nationalism, nasionalisme berketuhanan.

Dalam konteks implementasi di lapangan, di sana sini juga masih banyak masalah. Beberapa lembaga yang secara rutin membuat laporan tahunan pelanggaran kebebasan beragama juga menegaskan bahwa capaian jaminan kebebasan beragama yang ada saat inipun belum terimplementasi dengan baik. Laporan-laporan tersebut juga menegaskan bahwa pelanggaran kebebasan beragama bukan hanya dilakukan oleh aktor non negara yang pada dasarnya menentang konsepsi kebebasan beragama, namun juga oleh aktor negara yang seharusnya turut memastikan terpenuhinya jaminan kebebasan beragama yang telah dilegitimasi oleh hukum negara.

Minggu-minggu ini kita juga menyaksikan kasus disegelnya bangunan paseban (kompleks pemakaman) dari komunitas Sunda Wiwitan oleh Satpol PP di Kabupaten Kuningan, bersamaan dengan desakan sekelompok orang yang merasa terganggu dengan dibangunnya tugu di paseban tersebut. Entah sampai kapan kasus-kasus seperti ini terus terjadi.

Nah, buku pertama ini memuat percakapan tentang Trilogi Pembaruan Islam itu dengan beberapa tokoh yang sangat layak dijadikan referensi, baik dari segi keluasan pengetahuan, argumen, maupun soliditas perspektif. Mereka adalah Budhy Munawar-Rachman, M. Dawam Rahardjo, Abd A’la, Abdul Hadi WM, Abdul Moqsith Ghazali, Abdul Munir Mulkhan, Abdurrahman Wahid, Ahmad Suaedy, Ahmad Syafii Maarif, Azyumardi Azra, Bahtiar Effendy, Badriyah Fayumi, Benjamin F. Intan, Djohan Effendi, dan Elga Sarapung.

Nama-nama di atas tentu tidak asing bagi kita yang menggeluti sejarah relasi agama dan negara di Indonesia secara umum, sejarah relasi antar-agama, dan terutama sejarah pemikiran keislaman di Indonesia. Kontribusi pemikiran mereka, juga kiprah mereka dalam mempengaruhi arah negara dalam hubungannya dengan agama, menjadi landasan penting pembentukan atmosfir kebebasan beragama di Indonesia hingga hari ini.

Jadi, membaca buku ini, menikmati percakapan mereka, seperti sedang merekam proses pergulatan yang sangat kaya dan luar biasa. Sungguh, buku ini adalah kerja peradaban yang sangat besar artinya dan pantas mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya. (*)

 

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 1