Titik Hening dan Kebahagiaan

HomeOpini

Titik Hening dan Kebahagiaan

 “Kita semua membayar ongkos bagi kegilaan kita untuk bergegas, desakan kita yang membabi buta, kehidupan kita yang terburu-buru”-Jonathon Lazear

Buku: Hari-hari Berjibaku
Bertaruh Hidup
Memahami Perubahan
4 min read

 “Kita semua membayar ongkos bagi kegilaan kita untuk bergegas, desakan kita yang membabi buta, kehidupan kita yang terburu-buru”-Jonathon Lazear

Saat ini, kita hidup dalam masyarakat yang serba terburu-buru (Manic Society), serba segera, serba cepat, serba ringkas juga tak segan potong kompas.

Ini bukan saja soal ritme dan aktivitas motorik yang ekstrem atau dorongan yang sangat kuat untuk bertindak, tetapi bahwa ini sudah menjadi tata nilai, acuan dalam mengukur kemajuan, pencapaian, kesuksesan, kebahagiaan dan keberadaban kehidupan hari ini.

Yang khas dan kental dari karakter masyarakat serba terburu-buru ini adalah ketidaksabarannya. Robert Holden pendiri The Happiness Project melukiskan karakter ini dengan miris:

Jika sebuah hubungan tidak berkembang dengan cepat, kita meningalkannya. Jika seseorang tidak bisa bicara cukup ringkas, kita tutup telinga. Jika seseorang tidak bisa menjelaskan maksudnya dengan segera, kita jelaskan maksud mereka untuk mereka. Jika sebuah hubungan terantuk masalah, sulit dipercaya bahwa hubungan itu bernilai. Kita tidak nyaman dengan jeda dalam percakapan. Kita sering memotong pembicaraan untuk tiba di akhir lebih cepat, kita perlu terus bergerak”(Robert Holden-Success Intelligence).

Ketidaksabaran sering kali melahirkan kecerobohan dan kekonyolan yang sangat merugikan orang lain.

Sebut saja satu kasus bagaimana seseorang asal jepret dan posting saat melihat seorang bapak di halaman pusat perbelanjaan membawa beberapa troli belanjaan, menyusul diumumkannya 2 pasien positif COVID-19.

Belakangan muncul di sosial media keberatan dari pihak keluarga si bapak atas gambar yang kadung viral itu, yang menjelaskan bahwa orang tuanya adalah pedagang kelontong yang rutin sedemikian jumlah belanja untuk tokonya, bukan sedang terlibat panic buying sebagaimana yang ingin dikesankan.

Secara psikologis, masih dari buku Success Intelegence, prilaku dalam masyarakat ini di kelompokan dalam prilaku “Tipe H”, Hurried (bergegas). Prilaku yang selalu bergegas, seolah hidup sudah di tepian akhir hidupnya. Hostile (ganas). Prilaku yang ganas tak kenal belas kasih. Dalam konteks pencapaian kebahagian, fakta mempertontonkan bahwa inipun medan persaingan yang sengit dan keras. Orang lain adalah ancaman dari pencapaiannya, dan ini dalil untuk menyingkirkan segera pesaingnya. Humourless (gersang). Prilaku yang gak asik, garing dalam relasi sosial, penuh ketegangan dalam menghadapi setiap persoalan, sensitive (untuk menyebut gampang terpancing marah).

Hari ini, kita terkondisi untuk segala harus segera dicapai dipenuhi dan diselesaikan. Kita terdesak oleh tuntutan pribadi dan lingkungan, sampai tujuan hakiki justru diabaikan tapi yang nisbi diperjuangkan.

Kehidupan yang serba buru-buru ini adalah kehidupan yang mengajak kita untuk meninggalkan ‘di sini’ dan ‘kini’ lalu berlari dari apa adanya, menuju kesana, mengejar hasil akhirnya.

Selalu merasa seharusnya di sana bukan di sini, bilamana bukan kini. Rasa terdesaknya mengalihkan perhatian dari yang sedang dikerjakannya, karena pikirannya sudah ‘melompat’ ‘mengerjakan’ apa yang berikutnya. Begitu terburu-buru ketika sejatinya tidak ada apapun yang memburu-buru, kecuali kesadarannya sendiri yang tidak hadir dalam momen saat itu.

Kita tidak bisa mengharapkan satu kesetiaan hubungan dan loyalitas dalam masyarakat seperti ini, karena pikiran liar gentayangan, alih-alih terlibat dalam gairah total dengan yang tengah ada bersamanya—mencari yang lebih, begitu pembenarannya.

Titik Hening

Wednesday Slow Mechine adalah nama salah satu program highlight di radio station tempat saya pernah bekerja 10 tahun lalu.

Program ini mengajak pendengarnya untuk jeda dan melambatkan kecepatan segala aktivitasnya. Seharian penuh, listener dimanjakan hanya oleh lagu slow bernuansa cinta, romantis yang diharap berdampak melambatnya gerak fisik dan pikiran. Kita memang perlu mendisiplinkan diri untuk sengaja jeda dan melambat, bahkan menurut saya, mampu untuk berhenti jeda adalah sejenis keterampilan langka yang mendesak direalisasikan tiap diri.

Keterampilan inilah yang akan mengembalikan kewarasan diri dan arah hidup yang melenceng dari visi hidupnya—kebahagiaan lahir dan batin.

Ketergesaan lalu ingin cepat-capat telah membuang kesempatan kita berintim dengan proses. sementara jeda, di mana gerak fisik dan psikis melambat, adalah tindakan cerdas, yang dapat merawat dan memelihara momen proses dari saat ke saat dengan perhatian dan kesadaran penuh selama beraktifitas.

Pembalap mobil Formula satu, tidak peduli apakah ia sangat handal dan ternama tetap akan mengambil kesempatan pit-stop. Pada momen ini, si pembalap mengatur strategi, ia mendapat perbaikan mesin, mengisi bahan bakar, mengganti roda, mendapat pengarahan, petunjuk dan selanjutnya ia melaju dengan kesegaran baru.

Demikian pula dengan jeda, berhenti beberapa saat adalah healing bagi fisik dan mental yang kelelahan. Kita ‘mengisi’ ‘bahan bakar’ yang adalah spirit hidup holistik, yang menghubungkan selalu setiap tindakan dengan potensi kearifan primordial untuk memberi arahan dan petunjuk bahwa, kebahagiaan lahir-batin bukanlah sesuatu yang jauh dari si diri yang mengejarnya, juga suatu langkah cepat, taktis, praktis dan akurat muncul bukan sebagai respon kalut, tapi suatu spontanitas (terlihatnya) yang lahir dari Titik Hening.

Suatu keadaan yang muncul begitu saja dimana ada diam dalam penuh perhatian yang lengkap atas ­jati dukkha.

Hari ini, ketika wabah COVID-19 telah menelan ribuan korban jiwa, akhirnya bukan saja kita di tanah air, tapi masyarakat dunia, berhenti jeda dan menarik diri, menjaga jarak (social distancing) untuk mencegah meluasnya penyebaran virus yang tak kenal ampun ini.

Selain sebagai suatu cara perlawanan kita dengan virus ini, mungkin hikmah lainnya adalah, alam sedang mengambil kesempatannya memanggil ‘pulang’ manusia ke titik hening batinnya, berdiam diri dan menelusuri batin melalui pengamatan seksama atas apa yang tengah berlangsung di luar diri dan mengamati segala reaksi batin (cemas, ketakutan, khawatir, bimbang, ragu tak menentu, dst) atas segala rangsangan dari luar yang ditangkap indra lahiriah kita (­dukkha vedana).

Buddha dengan welas asihnya ‘menghentikan’ Angulimala sang petapa beruntai kalung jemari manusia, yang sibuk sepanjang hidupnya dalam pergulatan dan perjuangan mengejar-ngejar kebahagiaan.

“Duhai Angulimala, mengapa engkau terus berlari? berhentilah! Apa yang yang Engkau cari?”

Sumber bacaan: Robert Holden, Ph.D.-“Success Intelligence”

(Tulisan ini pertama kali diposting dalam Grup FB “Esoterika-Forum Spritualitas” pada tanggal 30 Agustus 2020)

 

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0